Rhany Chairunissa Rufinaldo
18 April 2019•Update: 18 April 2019
Umar Farooq
WASHINGTON
PBB pada Rabu menggambarkan serangkaian tembakan roket terbaru di ibu kota Libya, Tripoli, sebagai pertempuran terberat sejak konflik dimulai, dan sangat mengutuk penembakan.
Rentetan tembakan menghantam lingkungan Abu Salim serta distrik Algrarat dan Salahuddin di ibu kota, Selasa malam.
Serangan itu terjadi di tengah konflik yang terjadi sejak komandan Khalifa Haftar, seorang pemimpin militer yang berupaya untuk mengkonsolidasikan kekuasaan di seluruh negeri, meluncurkan kampanye militer untuk merebut Tripoli, basis pemerintah yang diakui PBB, awal bulan ini.
"Tripoli menyaksikan pertempuran terberat sejak pecahnya bentrokan dengan tembakan roket tanpa pandang bulu di lingkungan padat penduduk di ibu kota Libya," kata Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, pada konferensi pers di markas PBB.
Sementara Dujarric mengungkapkan laporan bahwa setidaknya lima warga sipil tewas dalam bentrokan itu, dewan lokal Abu Salim melaporkan enam kematian.
Juru bicara itu juga menyinggung soal pernyataan perwakilan khusus Sekretaris Jenderal PBB di Libya, Ghassan Salame, yang mengutuk keras serangan itu.
"Tanggung jawab atas tindakan yang mungkin merupakan kejahatan perang itu kini terletak tidak hanya pada orang-orang yang melakukan serangan tanpa pandang bulu, tetapi juga pada mereka yang memerintahkannya," kata Dujarric, menyampaikan pernyataan Salame.
"Dalam 24 jam terakhir, kami juga telah melihat peningkatan pengungsi dengan lebih dari 4.500 orang," tambah dia.
Jumlah total orang yang mengungsi akibat konflik saat ini berjumlah sekitar 25.000.
Libya masih dilanda krisis kekerasan sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan penggulingan dan terbunuhnya Presiden Muammar Khaddafi setelah empat dekade berkuasa.
Sejak itu, perpecahan politik Libya menghasilkan dua kursi kekuasaan saingan - satu di Al-Bayda dan satu lagi di Tripoli - bersama dengan sejumlah kelompok milisi bersenjata berat.
Pada Senin, Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB mengatakan sedikitnya 76 orang, termasuk 24 warga sipil, tewas sejak bentrokan pecah di Tripoli.
GNA menuduh pasukan pimpinan Haftar yang berbasis di Libya Timur berada dibalik serangan tersebut.