05 September 2017•Update: 06 September 2017
Cigdem Alyanak, Sefa Mutlu
ISTANBUL
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa ia akan mengemukakan nasib etnis Muslim Rohingya dalam pertemuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa di New York, akhir bulan ini.
Berbicara dengan penduduk setempat di Distrik Catalca, Istanbul, pada hari terakhir perayaan Idul Adha, Erdogan berkata, “Dunia masih diam menghadapi pembantaian massal di Myanmar.”
“Saya akan menyampaikan apa yang terjadi di Myanmar dalam Majelis Umum PBB pada 19 September secara menyeluruh. Kami akan membahas semuanya dengan para pemimpin negara di sana,” jelasnya.
Sebagai presiden Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Erdogan mengatakan bahwa sejauh ini ia telah berbicara dengan sekitar 20 pemimpin negara terkait masalah ini.
Bulan Sabit Merah Turki (Kizilay) dan Perdana Menteri Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat Turki (AFAD) akan terus mengirim bantuan kemanusiaan untuk Muslim Rohingya di Asia Tenggara.
Kekerasan di negara bagian Rakhine, Myanmar, meletus pada 25 Agustus ketika pasukan keamanan negara melancarkan operasi militer terhadap etnis Muslim Rohingya. Laporan media menyebutkan pasukan keamanan Myanmar telah menyerang desa-desa warga Rohingya dengan mortir dan senapan mesin.
Operasi militer tersebut memicu masuknya pengungsi ke negara tetangga, Bangladesh, meskipun Bangladesh telah menutup perbatasannya dari pengungsi.
Konflik antara umat Buddha dan Muslim di wilayah tersebut meletus sejak kekerasan komunal terjadi pada 2012.
Sebuah aksi kekerasan juga terjadi pada Oktober lalu di Maungdaw. Laporan PBB menyebutkan bahwa telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan kemanusiaan oleh pasukan keamanan.
PBB mencatat adanya pemerkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak-anak – pemukulan brutal, dan penghilangan paksa. Perwakilan dari Rohingya mengatakan aksi kekerasan tersebut telah menewaskan 400 jiwa.