18 Juli 2017•Update: 20 Juli 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Majelis Ulama Indonesia (MUI) berpendapat bahwa Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan posisinya akan semakin kuat menyusul kudeta gagal yang dilakukan oleh Fethullah Gullen Terrorist Organization (FETO) pada 15 Juli 2016.
“Kudeta itu membawa berkah bagi Erdogan karena Erdogan semakin kuat. Harapan kita semoga Turki jadi lebih baik. Harapan dunia Islam salah satunya ada pada Turki karena Turki ekonominya maju dan merupakan kekuatan yang belum terpecah,” kata Wakil Ketua Umum MUI Pusat Yunahar Ilyas saat dihubungi Anadolu Agency via telepon pada Selasa (18/7).
Menurutnya, dibandingkan negara-negara Arab lainnya, Turki relatif masih memiliki kebersatuan yang tinggi. Untuk di kawasan Asia sendiri, negara-negara yang memiliki banyak penduduk Muslim seperti Indonesia dan Malaysia pun dipandangnya masih relatif bersatu.
“Mudah-mudahan kalau ekonomi Turki makin kompak dan maju, masih ada harapan supaya Islam lebih baik dan kembali punya wibawa di dunia ini karena sekarang kan dunia Islam semakin tidak punya wibawa, dianggap angin lalu. Muncul Islamophobia [fobia terhadap Islam] di mana-mana. Kekuatan memecah-belah dunia Islam makin besar. Sadar tak sadar, Islam terpecah.”
“Semoga kekuatan Erdogan sebagai presiden yang kuat sekarang ini betul-betul bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan Turki dan dunia Islam. Dan semoga Turki lebih berperan dalam menyelesaikan persoalan tetangganya seperti Suriah dan Qatar,” tutup Yunahar.
Turki merayakan setahun kudeta gagal tersebut pada Sabtu (15/7) dengan mengadakan pawai akbar. Presiden Erdogan pun ikut berkumpul dengan rakyat Turki di Jembatan Bosphorus memperingati setahun kudeta berdarah yang menewaskan lebih dari 250 orang dan melukai lebih dari 2.000 orang tersebut.
Meski FETO dituding sebagai dalang peristiwa ini, pemimpinnya Fetullah Gullen menyangkal keterlibatannya. Gullen sampai sekarang tinggal di Amerika Serikat.