Iqbal Musyaffa
03 April 2020•Update: 06 April 2020
JAKARTA
PT Pertamina telah mengidentifikasi 25 anak cucu perusahaan untuk dirasionalisasi melalui berbagai skema.
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan 25 perusahaan tersebut sebagian besar adalah yang secara operasional tidak berjalan sehingga bisa dilikuidasi ataupun didivestasi.
“Ini adalah quick win sesuai kebijakan pemerintah dan tidak ada lay off karena ada beberapa orang penugasan dari Pertamina dan bisa kami tarik lagi,” jelas Nicke dalam telekonferensi di Jakarta, Jumat.
Sementara itu, Nicke memastikan seluruh karyawan pada anak cucu usaha yang nantinya didivestasi, akan direkrut oleh pemegang saham baru.
“Tahun ini akan ada 8 perusahaan yang dirasionalisasi. 7 perusahaan dilikuidasi dan 1 perusahaan didivestasi, sementara sisanya (17 perusahaan) pada tahun depan,” ujar Nicke.
Dia menambahkan setelah merasionalisasi anak cucu perusahaan, secara parallel korporasi akan fokus pada bisnis inti serta melakukan merger pada anak cucu usaha lainnya, ataupun mengakuisisi perusahaan lain di luar negeri yang diperlukan untuk memperkuat bisnis utamanya.
“Dampak dari rasionalisasi pertama adalah efisiensi, serta 25 perusahaan yang akan dilikuidasi dan divestasi akan menurunkan beban usaha Peramina dan bisa lebih fokus pada usaha yang masih aktif dan memberikan value added ke Pertamina,” urai Nicke.
Nicke menjelaskan perusahaan yang masih aktif akan dibedakan dengan perusahaan yang harus tetap ada, seperti perusahaan hulu yang ada di wilayah kerja sebanyak 77 perusahaan yang masing-masing mengelola 1 wilayah kerja dan akan ditutup setelah kontrak dengan dengan pemerintah berakhir.
Sementara perusahaan lain akan dibentuk melalui joint venture sendiri. Begitupun dengan perusahaan pembangkit listrik secara hukum juga harus dibentuk sendiri, serta perusahaan yang secara hukum tidak diperlukan juga akan dikaji untuk merger.