Iqbal Musyaffa
09 Juni 2020•Update: 10 Juni 2020
JAKARTA
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus menguat, menurut ekonom, masih mengandung risiko yang berpotensi kembali melemahkan nilai tukar rupiah lebih jauh.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di berbagai daerah untuk masuk ke fase kenormalan baru masih menjadi perhatian banyak pihak. Dikhawatirkan kondisi kenormalan baru kembali meningkatkan kasus positif Covid-19.
“Pengalaman dari Spanish Flu tahun 1918 ada lonjakan di gelombang kedua. Ini yang perlu diantisipasi sehingga penanganan Covid-19 tetap harus jadi fokus utama pemerintah dengan meningkatkan disiplin masyakarat,” ungkap Josua kepada Anadolu Agency, Selasa.
Meski begitu, Josua mengatakan seluruh pihak tentu berharap pada masa transisi ini tidak ada penambahan kasus Covid-19 secara signifikan karena bisa menjadi risiko pada perekonomian, termasuk nilai tukar.
“Penguatan rupiah bisa mencapai Rp13.700 per dolar AS dan untuk penguatan lebih jauh lagi, akan terbatas karena adanya risiko gelombang kedua Covid-19 di dalam negeri dan juga faktor eksternal terkait perang dagang AS-China,” tambah dia.
Selain itu, Josua mengatakan faktor lain yang perlu diperhatikan terkait pergerakan nilai tukar rupiah tahun ini adalah adanya pemilu presiden di Amerika Serikat pada kuartal keempat nanti yang apapun hasilnya, akan berpengaruh pada sentimen global termasuk pada pergerakan dan selera risiko (risk appetite) investor global.
“Walaupun ada ruang menguat bagi rupiah, itu bersifat temporer dan rupiah akan stabil di level saat ini Rp13.800-Rp14.000 per dolar AS karena sebelum ada Covid-19 rupiah juga ada di kisaran Rp13.500-Rp13.800,” ujar Josua.