Iqbal Musyaffa
17 April 2018•Update: 17 April 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pengamat menilai memanasnya kondisi Suriah seiring rencana AS melakukan invasi tidak terlalu berpengaruh terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Analis Global Market Bank Mega James Evan Tumbuan kepada Anadolu Agency, Selasa, mengatakan IHSG justru ditutup menguat pada Senin kemarin.
“Dampak krisis Suriah sangat minor,” ungkap dia.
Pada penutupan Senin, IHSG menguat 0,26 persen atau 16,420 poin menjadi 6.286,750. Penguatan tersebut menurut dia karena saat ini banyak emiten yang melakukan laporan keuangan serta pembagian dividen.
Krisis Suriah, menurut dia, kemungkinan berdampak pada nilai tukar rupiah terhadap dolar yang masih berada dalam tekanan, di level Rp13.835 per dolar AS.
Sementara Executive Vice President Intermediary Business Schroders Bonny Iriawan mengatakan faktor eksternal yang memengaruhi pergerakan IHSG adalah ketegangan politik dagang antara AS dan Tiongkok yang dapat berdampak pada perang dagang.
“Bila perang dagang benar terjadi, maka bursa akan sangat tertekan,” lanjut dia.
Pada saat konferensi pers dengan media Senin sore, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan krisis Suriah akan sangat berdampak pada pergerakan harga minyak dunia yang akan terus melambung.
Menteri Sri mengatakan, kenaikan harga minyak dunia akibat krisis tersebut baru akan terlihat dampaknya pada triwulan kedua.
“Kondisi geopolitik yang relatif spekulatif sangat berpengaruh terhadap harga minyak dunia selain karena faktor supply and demand,” jelas Menteri Sri kemarin.
Harga minyak dunia saat ini berada di level USD 63 per barel jauh di atas harga asumsi dalam APBN 2018 yang ditetapkan seharga USD 48 per barel.