İqbal Musyaffa
25 Januari 2018•Update: 25 Januari 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Rupiah pada hari ini dibuka menguat di angka Rp13.295 per dolar AS dan terus menguat hingga Rp13.290 per dolar AS karena sentimen global akibat melemahnya nilai tukar dolar AS terhadap mata uang besar dunia.
Analis Global Market Bank Mega James Evan Tumbuan pada Kamis mengatakan kepada Anadolu Agency, pelemahan nilai tukar dolar yang terjadi sejak awal pekan menjadi tenaga bagi kenaikan harga emas.
Pada Rabu kemarin, harga emas mencapai titik tertinggi sejak Agustus 2016. Evan mengatakan, pada hari ini, harga emas terkoreksi tipis ke USD1.360,70 per troy ons dari level kemarin pada angka USD1.361,40 per troy ons.
“Pelemahan dolar AS karena Trump dan jajarannya ingin agar mata uangnya melemah,” jelas dia.
Melemahnya harga dolar AS, menurut dia, akan berdampak terhadap perdagangan. Dengan begitu, harga ekspor akan lebih rendah sehingga dapat meningkatkan permintaan terhadap produk-produk AS.
“Fokus AS saat ini untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan inflasi karena masih belum mencapai target sebesar 2 persen,” jelas Evan.
Namun, dia tidak melihat banyak faktor domestik yang memengaruhi penguatan rupiah terhadap dolar AS. Terlebih lagi, IHSG pada hari ini justru terpantau sedikit melemah ke level 6.606,860 dari penutupan kemarin di level 6.615,490.
Faktor domestik yang menjadi acuan Evan dalam melihat penguatan rupiah adalah pernyataan Gubernur BI Agus Martowardojo yang memprediksi inflasi pada Januari meningkat 0.6 persen dan inflasi tahunan sebesar 3,5 persen.
“Ditambah lagi penguatan rupiah ditopang sektor obligasi pemerintah. Kepemilikan asing mengenai surat berharga pemerintah meningkat menjadi Rp880 triliun pada 23 januari 2018,” jelas dia.