İqbal Musyaffa
18 April 2018•Update: 19 April 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) memprediksi potensi terjadinya penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih kecil akibat faktor musiman yang akan terjadi, namun akan tetap terjaga stabil.
“Kalau dilihat data pembayaran kita secara musiman di Kuartal II akan terjadi pelebaran current account deficit [CAD/defisit transaksi berjalan] yang lebih besar dari kuartal sebelumnya,” ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia Doddy Zulverdi seusai acara pelantikan Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di Jakarta, Rabu.
Melebarnya CAD, menurut dia, akibat dari gabungan kebutuhan valas untuk impor. Sektor swasta akan mulai melakukan importasi setelah selesai melakukan perencanaan di Kuartal I, sebut Dody, selain juga sebagai persiapan menjelang lebaran.
“CAD kita di Kuartal II melebar biasanya untuk pembayaran dividen dan utang. Ini faktor musiman di Kuartal II dan IV,” lanjut dia.
Doddy beranggapan melebarnya CAD bukan masalah sepanjang merupakan implikasi dari meningkatnya investasi dan produksi untuk ekspor.
Faktor penghambat penguatan rupiah lainnya, menurut dia, adalah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian meskipun ancaman perang dangan AS dan Tiongkok sudah agak mereda, namun belum tuntas. Ditambah lagi faktor geopolitik di Timur Tengah yang turut menekan rupiah.
Meski begitu, Doddy mengatakan minat asing terhadap surat berharga negara (SBN) masih besar sehingga dapat menjaga kebutuhan valas untuk impor dan pembayaran dividen.
“Dalam periode ini nilai tukar relatif stabili sebenarnya prestasi dan menunjukkan ada support dari domestik. Tanpa itu, bisa saja rupiah melemah lagi,” lanjut dia.
Meskipun potensi penguatan nilai tukar kecil, namun Doddy melihat sebenarnya potensi penguatan masih ada terkait masuknya surat utang berdenominasi rupiah ke dalam global bond index Bloomberg Barclay Index pada Mei dan Juni mendatang.
Minat asing terhadap penerbitan surat utang bermata uang rupiah menurut dia selalu over subscribe dan menunjukkan indikasi kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Apabila itu sudah terealisasi, maka rupiah bisa berpotensi menguat.
“Kemudian implikasi dari kegiatan ekonomi yang terus naik sehingga kebutuhan dan permintaan atas aset domestik turut meningkat juga menunjukkan potensi penguatan rupiah ke depan,” lanjut dia.