İqbal Musyaffa
29 November 2017•Update: 29 November 2017
Iqba Musyaffa
JAKARTA
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dalam pertemuan tahunan Bank Indonesia pada Selasa malam menyatakan pentingnya memanfaatkan momentum dalam pengambilan kebijakan.
Saat ini, menurut Presiden, dunia berada dalam situasi new normal. Seiring hal tersebut, muncul berbagai model bisnis baru yang mengubah dan menggeser pola konsumsi seperti dari belanja ke wisata.
“Berbagai perubahan yang terjadi di dunia perlu menjadi pertimbangan dalam pembuatan kebijakan,” tegas Presiden.
Lebih lanjut Presiden juga menyampaikan tentang berbagai momentum positif pada perekonomian Indonesia, yang harus diambil manfaatnya.
Menurut dia, Indonesia sejak 30 tahun terakhir telah banyak mengalami lompatan kemajuan dalam bidang ekonomi, yang patut disyukuri.
“Pertama kalinya dalam 20 tahun [sejak trahun 1997], Indonesia diberi status layak investasi oleh 3 lembaga rating,” jelas Joko.
Kemudahan berusaha Indonesia juga melonjak dari peringkat 106 ke 72.
Begitupun dengan pariwisata. Jumlah turis asing bertambah sebanyak 25%. “Seluruhnya patut membawa optimisme bagi dunia usaha Indonesia,” tegas dia.
Akan tetapi, Presiden tetap mengingatkan pentingnya reformasi struktural dan pembenahan lainnya, seperti undang-undang yang berkualitas.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur BI Agus Martowardojo juga menekankan pentingnya penguatan momentum dalam mendukung perbaikan ekonomi Indonesia.
Ia mengatakan bahwa di tengah pemulihan ekonomi global yang berlangsung sepanjang 2017, dengan pertumbuhan ekonomi global yang tak hanya lebih tinggi namun juga lebih merata, ekonomi Indonesia pun turut mencatat penguatan.
Meskipun demikian, “Ekonomi Indonesia masih mengalami tantangan, baik global maupun domestik,” tegas Agus.
Untuk itu, Agus berharap semua pemangku kebijakan perlu melanjutkan upaya-upaya untuk memperkuat momentum pemulihan, melalui kebijakan ekonomi yang progresif.
“Kebijakan harus berorientasi ke masa depan, berkesinambungan, dan tersinergi, serta berimbang,” urai dia.
Termasuk Bank Indonesia, sebut Agus, yang akan tetap fokus untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.