Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa sepanjang Februari, rata-rata harian rupiah melemah 1,65 persen dengan nilai tukar rata-rata Rp13.603 per dolar AS.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman seusai rapat dewan gubernur, Kamis, mengatakan bahwa nilai tukar rupiah yang melemah pada Februari sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan dengan penyebab utamanya adalah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
Agusman mengatakan bahwa BI menilai pernyataan Jerome Powell selaku Gubernur the Fed yang lebih hawkish mendorong ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga Fed Fund Rate yang lebih cepat dan lebih tinggi.
“Hal tersebut mendorong pembalikan modal asing dan tekanan pelemahan nilai tukar pada berbagai mata uang dunia termasuk Indonesia,” ungkap dia.
Pelemahan rupiah lanjut Agusman, masih berlangsung pada awal Maret sejalan dengan memburuknya sentimen pasar terkait dengan penerapan inward-oriented trade policy yang dikhawatirkan mendorong retaliasi dari negara lain.
“Bank Indonesia akan terus mewaspadai meningkatnya risiko ketidakpastian pasar keuangan global dan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar,” lanjut Agusman.
Meskipun rupiah masih cenderung melemah, namun BI memperkirakan perekonomian Indonesia pada triwulan I 2018 tumbuh lebih baik dari triwulan yang sama tahun sebelumnya.
Meningkatnya pertumbuhan tersebut menurut Agusman didorong oleh investasi dan konsumsi pemerintah yang meningkat, konsumsi swasta yang stabil, dan kinerja ekspor yang tetap positif.
“Peningkatan investasi terutama terjadi pada sektor konstruksi seiring penyelesaian proyek infrastruktur dan pada sektor primer dengan meningkatnya permintaan eksternal,” jelas dia.
BI memperkirakan konsumsi swasta juga tumbuh stabil didukung dengan daya beli masyarakat yang terjaga dan peningkatan pengeluaran terkait Pilkada.
“Konsumsi pemerintah meningkat dengan adanya akselerasi penyaluran bansos dan dana desa,” imbuh Agusman.
Sementara dari sisi eksternal, ekspor diperkirakan tumbuh positif dipengaruhi peningkatan pertumbuhan ekonomi dunia. Sementara itu, impor juga diperkirakan meningkat khususnya terkait kebutuhan investasi dan ekspor yang memiliki konten impor tinggi.
“Dengan perkembangan tersebut, untuk keseluruhan tahun 2018, perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,1-5,5 persen,” urai Agusman.
news_share_descriptionsubscription_contact
