İqbal Musyaffa
22 Maret 2018•Update: 22 Maret 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia mencermati beberapa risiko di tengah pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan terus meningkat.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman seusai rapat dewan gubernur BI di Jakarta, Kamis, mengatakan terdapat sejumlah risiko perekonomian global yang tetap perlu diwaspadai.
“Pertumbuhan ekonomi AS yang lebih tinggi dapat mendorong kemungkinan kenaikan Fed Fund Rate yang lebih cepat dari perkiraan semula,” ungkap Agusman.
Sementara itu, kecenderungan penerapan inward-oriented trade policy di sejumlah negara menurut dia berpotensi menimbulkan retaliasi dari negara lain yang dapat menurunkan volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia.
Terkait pertumbuhan ekonomi global, BI menurut dia memperkirakan peningkatan pertumbuhan ekonomi global bersumber dari perbaikan ekonomi negara maju dan negara berkembang yang terus berlanjut.
“Di negara maju, pertumbuhan ekonomi AS pada 2018 diprakirakan lebih tinggi ditopang oleh investasi dan konsumsi yang menguat seiring dampak stimulus fiskal,” jelas Agusman
Kenaikan suku bunga Fed Fund Rate sebesar 25 bps pada 21 Maret menurut dia sesuai dengan perkiraan Bank Indonesia.
“Ke depan, Bank Indonesia juga memperkirakan proses normalisasi kebijakan moneter AS akan berlanjut dengan suku bunga Fed Fund Rate yang akan kembali meningkat,” lanjut dia.
Sementara itu, ekonomi Eropa menurut BI diprakirakan tumbuh lebih baik, didukung oleh perbaikan ekspor dan konsumsi serta kebijakan moneter yang akomodatif.
Di negara berkembang, ekonomi Tiongkok menurut BI diperkirakan akan tetap tumbuh tinggi didorong oleh kenaikan konsumsi di tengah perlambatan investasi, khususnya real estate, seiring proses rebalancing ekonomi.
“Prospek pemulihan ekonomi global yang membaik tersebut akan meningkatkan volume perdagangan dunia yang berdampak pada tetap kuatnya harga komoditas global, termasuk minyak, pada 2018,” urai Agusman.