Rabia İclal Turan
16 Juni 2026•Update: 16 Juni 2026
Amerika Serikat dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama empat bulan serta membuka kembali Selat Hormuz, kata seorang pejabat senior AS pada Senin, seraya menjelaskan bahwa kesepakatan tersebut memuat kerangka bertahap yang mengaitkan langkah ekonomi, verifikasi program nuklir, dan komitmen keamanan kawasan.
Pejabat tersebut mengatakan nota kesepahaman itu ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance dari pihak Amerika Serikat, serta Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf yang mewakili Teheran.
Dalam pengarahan kepada wartawan, pejabat senior AS itu menyebut nota kesepahaman tersebut menyediakan kerangka bagi jalannya negosiasi dan hubungan kedua negara pada masa mendatang.
"Semakin Iran bersedia bekerja sama dengan kami terkait program nuklirnya, memverifikasi bahwa mereka tidak membangun senjata nuklir, serta tidak mendanai radikalisme dan terorisme di kawasan, maka semakin besar pula peluang mereka diterima dalam perekonomian global," katanya.
Terkait Selat Hormuz, pejabat itu mengatakan lalu lintas pelayaran mulai meningkat, meskipun pemulihan penuh ke kondisi normal diperkirakan belum akan terjadi dalam dua pekan ke depan karena masih adanya ranjau dan pertimbangan risiko dari masing-masing operator kapal.
"Anda akan melihat peningkatan signifikan lalu lintas di Selat Hormuz, bahkan mulai terjadi sekarang," ujarnya.
Detail kesepakatan diumumkan dalam 24-48 jam
Pejabat AS tersebut mengatakan seluruh rincian kesepakatan akan diumumkan dalam 24 hingga 48 jam ke depan, sementara pembahasan teknis akan dimulai pekan ini di bawah koordinasi Wakil Presiden JD Vance.
Menanggapi laporan mengenai kemungkinan pencairan dana Iran yang dibekukan, termasuk potensi dana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS, ia mengatakan isu tersebut memang dibahas namun seluruhnya akan bergantung pada pelaksanaan komitmen yang disepakati.
"Anda tidak bisa memberi mereka akses terhadap dana atau mencairkan dana jika uang itu hanya akan digunakan untuk mendanai terorisme dan menciptakan ketidakstabilan lebih lanjut di kawasan," katanya.
Ia menambahkan bahwa Washington siap mencairkan dana secara bertahap, dimulai dengan "langkah-langkah kecil" yang dikaitkan dengan kepatuhan awal Iran terhadap kesepakatan.
"Kami bersedia mencairkan sebagian dana yang dibekukan secara bertahap, tetapi semuanya akan dikaitkan dengan pencapaian yang dapat diverifikasi," ujarnya seraya menegaskan bahwa seluruh proses akan berlangsung transparan tanpa kesepakatan tersembunyi.
Meski demikian, pejabat tersebut tidak menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan "langkah-langkah kecil". Sementara itu, seorang pejabat senior AS lainnya menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada aset Iran yang telah dicairkan oleh Amerika Serikat maupun negara lain.
Pasukan AS tetap bertahan di Timur Tengah
Mengenai postur militer AS di kawasan, pejabat senior tersebut mengatakan pasukan Amerika akan tetap berada pada tingkat kekuatan saat ini selama periode negosiasi berlangsung.
"Kami telah meningkatkan jumlah pasukan di kawasan untuk mempersiapkan operasi yang dimulai pada Februari. Kami berharap nantinya dapat menguranginya, tetapi belum sekarang. Kami ingin melihat Iran benar-benar melakukan apa yang mereka janjikan," katanya.
Terkait sikap negara-negara Teluk, pejabat tersebut mengatakan para mitra regional menyambut positif kesepakatan itu, berbeda dengan respons terhadap Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) atau kesepakatan nuklir Iran yang ditandatangani pada 2015.
"Anda tidak akan melihat Qatar, Uni Emirat Arab, atau negara-negara lain membuat kesepakatan terpisah," katanya.