17 Juli 2026•Update: 17 Juli 2026
Selebrasi pemain Argentina yang membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" (Malvinas adalah milik Argentina) usai memastikan tempat di final Piala Dunia FIFA 2026 kembali memicu perdebatan mengenai batas antara ekspresi politik dan aturan netralitas dalam sepak bola.
Setelah mengalahkan Inggris 2-1 pada semifinal, Lisandro Martinez dan Giovani Lo Celso merayakan kemenangan dengan mengangkat spanduk tersebut.
Slogan itu merujuk pada sengketa Kepulauan Falkland—yang disebut Malvinas oleh Argentina—yang memicu perang selama 74 hari antara Argentina dan Inggris pada 1982. Konflik tersebut menewaskan lebih dari 900 orang dan hingga kini masih menjadi isu sensitif bagi kedua negara.
Argentina pernah dijatuhi sanksi FIFA
Ini bukan kali pertama Argentina menampilkan slogan tersebut dalam ajang sepak bola.
Sebelum laga uji coba Piala Dunia melawan Slovenia pada 7 Juni 2014 di La Plata, seluruh skuad Argentina berfoto di belakang spanduk dengan pesan yang sama.
FIFA kemudian membuka proses disipliner terhadap Federasi Sepak Bola Argentina (AFA), memberikan teguran resmi serta denda sebesar 33.000 dolar AS karena dianggap melakukan pelanggaran tim dan menyampaikan pesan yang bersifat politik atau provokatif.
Aturan FIFA mengenai pesan politik
Berdasarkan Laws of the Game yang diterbitkan International Football Association Board (IFAB), perlengkapan pertandingan tidak boleh memuat slogan, pernyataan, atau gambar yang bersifat politik, agama, maupun pribadi.
Larangan tersebut juga berlaku untuk berbagai materi lain di luar perlengkapan pemain.
Dalam daftar barang yang dilarang FIFA disebutkan bahwa spanduk, bendera, selebaran, pakaian, maupun atribut lain yang mengandung unsur politik, diskriminatif, atau menyinggung kelompok tertentu berdasarkan ras, warna kulit, etnis, asal kebangsaan, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan politik, orientasi seksual, maupun status lainnya tidak diperbolehkan di area resmi turnamen.
Apabila terjadi pelanggaran, FIFA dan IFAB dapat menjatuhkan berbagai sanksi, mulai dari hukuman larangan bermain hingga denda.
Sejumlah kontroversi serupa
Kasus Argentina menambah daftar panjang kontroversi mengenai ekspresi politik di sepak bola internasional.
Pada Piala Dunia 2026, FIFA mempertahankan larangan pengibaran bendera Iran era sebelum Revolusi Islam 1979 setelah sekelompok warga Iran-Amerika menggugat kebijakan tersebut di pengadilan Amerika Serikat. FIFA beralasan hanya bendera resmi negara anggota yang diakui yang boleh ditampilkan demi mencegah demonstrasi politik.
Pelatih Mesir Hossam Hassan juga memicu perdebatan setelah membawa bendera Mesir dan Palestina ke lapangan usai kemenangan timnya atas Australia. Ia mengatakan kemenangan itu dipersembahkan untuk rakyat Mesir dan Palestina. Hingga kini FIFA belum mengumumkan tindakan disipliner atas insiden tersebut.
FIFA juga menolak penggunaan jersey khusus Haiti yang memperingati kemerdekaan negara itu karena dinilai melanggar aturan mengenai pesan politik pada perlengkapan pertandingan.
Di Euro 2024, kapten Spanyol Alvaro Morata dan Rodri dijatuhi larangan bermain satu pertandingan setelah memimpin yel-yel "Gibraltar adalah milik Spanyol" dalam perayaan gelar juara. UEFA menilai tindakan tersebut melanggar aturan yang melarang penggunaan ajang olahraga untuk menyampaikan pesan di luar olahraga.
Masih pada Euro 2024, bek Timnas Turkiye Merih Demiral menerima hukuman larangan bermain dua pertandingan setelah melakukan gestur tangan "Grey Wolves" saat merayakan gol ke gawang Austria. Kementerian Luar Negeri Turkiye saat itu menyatakan penyesalan atas keputusan UEFA.
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, tujuh kapten tim Eropa membatalkan rencana mengenakan ban kapten pelangi "OneLove" setelah FIFA mengancam akan memberikan kartu kuning otomatis kepada pemain yang tetap memakainya.
Tim nasional Jerman juga sempat melakukan aksi menutup mulut saat foto resmi sebelum laga melawan Jepang sebagai bentuk protes terhadap sikap FIFA terkait ban kapten OneLove. Namun FIFA tidak menjatuhkan sanksi atas aksi tersebut.
Dalam turnamen yang sama, pemain Iran memilih diam saat lagu kebangsaan diperdengarkan sebagai bentuk solidaritas terhadap gelombang protes di negaranya setelah kematian Mahsa Amini. FIFA juga tidak mengambil tindakan disipliner.
Pada Piala Dunia 2018, Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri didenda masing-masing 10.000 franc Swiss setelah melakukan selebrasi simbol elang berkepala dua yang dikaitkan dengan identitas Albania di tengah sengketa Serbia-Kosovo.
Sementara itu, gelandang Korea Selatan Park Jong-woo dijatuhi larangan bermain dua pertandingan internasional usai membentangkan spanduk bertuliskan "Dokdo adalah wilayah kami" setelah timnya meraih medali perunggu Olimpiade London 2012. Kasus tersebut berkaitan dengan sengketa kepulauan antara Korea Selatan dan Jepang.