Chandni
09 April 2018•Update: 10 April 2018
Faruk Zorlu
ANKARA
Dewan Rohingya Eropa (ERC) mendesak agar komunitas internasional membantu melindungi Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar.
"Kami menyerukan agar komunitas internasional menarik pelaku genosida ini ke hadapan pengadilan internasional. Kami juga memohon agar komunitas internasional memastikan mereka bisa 'Pulang secara Terlindungi ke Rumah yang Dilindungi' di Arakan Utara, Myanmar," bunyi pernyataan yang dirilis ERC menyusul sebuah konferensi di Frankfurt.
Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 656.000 warga Rohingya menyeberang dari Rakhine ke Bangladesh, menurut PBB.
Setidaknya 9.000 Rohingya tewas di Rakhine antara 25 Agustus dan 24 September, menurut lembaga Dokter Lintas Batas (MSF).
Dalam sebuah laporan tertanggal 12 Desember, MSF mengatakan 71,7 persen Rohingya atau sekitar 6.700 orang tewas akibat kekerasan. Itu termasuk 730 anak-anak dibawah usia 5 tahun.
"Hampir satu juta Rohingya diusir oleh militer Myanmar dari kampung halaman mereka. Myanmar melakukan pemerkosaan masal, pembakaran rumah massal, pembunuhan massal, dan penahanan massal terhadap Rohingya," terang pernyataan itu.
Dewan juga meminta pihak berwenang Myanmar mengembalik identitas etnis dan kewarganegaraan Rohingya, serta memberikan mereka HAM sepatutny seperti kebebasan bergerak, beribadah, menempuh pendidikan dan layanan kesehatan.
ERC menyerukan agar otoritas menjamin keamanan bagi Rohingya yang masih berada di Rakhine state, serta membolehkan mereka yang melarikan diri kembali pulang.
Rohingya, yang disebut PBB sebagai orang paling teraniaya di dunia, menghadapi ketakutan meningkat atas serangan yang membunuh puluhan orang pada kekerasan komunal pada 2012.
PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan – termasuk bayi dan anak-anak — pemukulan brutal dan penghilangan oleh petugas keamanan.
Dalam sebuah laporan, penyidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut merupakan kejahatan kemanusiaan.