Para ilmuwan memperingatkan bahwa samudra dan laut di dunia menghadapi tekanan yang semakin besar akibat kenaikan suhu, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati, sehingga mempertegas pentingnya Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP31) yang akan diselenggarakan Turkiye pada akhir tahun ini.
Pernyataan tersebut disampaikan menjelang Hari Laut Sedunia yang diperingati setiap 8 Juni. Hari peringatan itu ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2008 untuk meningkatkan kesadaran terhadap berbagai tantangan yang dihadapi lautan dunia.
COP31 merupakan Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-31, forum tahunan utama yang mempertemukan para pemimpin dunia, ilmuwan, dan pembuat kebijakan dari sekitar 200 negara untuk merundingkan dan menetapkan komitmen terkait krisis iklim. Tahun ini, konferensi akan berlangsung di Antalya Expo Center pada 9-20 November.
Direktur Institut Ilmu dan Manajemen Kelautan Universitas Istanbul, Prof. Cem Gazioglu, mengatakan bahwa lautan selama puluhan tahun telah menyerap dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia, namun kini mulai mendekati batas kemampuannya akibat berbagai tekanan lingkungan.
"Lautan menyerap sekitar sepertiga emisi karbon global dan lebih dari 90 persen panas berlebih yang dihasilkan aktivitas manusia," kata Gazioglu kepada Anadolu.
"Namun, lautan kini menghadapi tekanan termal, pengasaman, penurunan kadar oksigen, polusi plastik, hilangnya habitat, dan menurunnya keanekaragaman hayati," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kebijakan iklim dan tata kelola kelautan tidak lagi dapat diperlakukan sebagai isu yang terpisah. Menurut dia, upaya konservasi laut perlu didukung pendanaan yang lebih kuat melalui berbagai mekanisme, termasuk Dana Iklim Hijau (Green Climate Fund).
Gazioglu juga memperingatkan bahwa dampak perubahan iklim semakin terlihat di perairan Turkiye, termasuk meningkatnya risiko lendir laut (mucilage) di Laut Marmara, berkurangnya kadar oksigen di Laut Hitam, serta gelombang panas laut dan spesies invasif di Laut Mediterania.
Direktur Institut Ilmu Kelautan Universitas Teknik Timur Tengah, Prof. Baris Salihoglu, mengatakan COP31 seharusnya dipandang bukan hanya sebagai konferensi iklim, tetapi juga sebagai forum utama untuk membahas persoalan laut.
"Kita harus memandang COP31 bukan hanya sebagai konferensi iklim, tetapi juga sebagai 'COP Lautan' yang kuat, karena dampak perubahan iklim yang paling nyata kini muncul di wilayah laut," kata Salihoglu.
Ia menuturkan bahwa pemanasan perairan, pengasaman, hilangnya oksigen, dan degradasi ekosistem terus meningkat, sementara polusi plastik, penangkapan ikan berlebihan, dan kerusakan habitat masih membebani lingkungan laut.
"Saat ini kita tidak hanya perlu berbicara tentang melindungi laut, tetapi juga merancang ulang cara kita memanfaatkannya," ujarnya.
Presiden Yayasan Penelitian Kelautan Turki (TUDAF), Prof. Bayram Ozturk, mengatakan perubahan yang dipicu iklim semakin terlihat di kawasan Laut Mediterania dan Laut Hitam.
"Laut Mediterania semakin bersifat tropis, sementara Laut Hitam semakin menyerupai Mediterania," kata Ozturk.
Ia menjelaskan bahwa jumlah spesies yang bermigrasi dari Laut Merah ke Laut Mediterania melalui Terusan Suez meningkat drastis dalam satu abad terakhir. Hingga 2021, lebih dari 1.000 spesies telah tercatat memasuki Mediterania dan sekitar 700 di antaranya telah menetap dalam ekosistem kawasan tersebut.
Ozturk menilai Turkiye berpotensi memainkan peran utama dalam upaya konservasi laut di tingkat regional. Menurut dia, menjadi tuan rumah Konferensi Laut PBB di masa mendatang dapat menjadi peluang untuk menampilkan berbagai upaya Turkiye dalam perlindungan laut dan pengelolaan samudra yang berkelanjutan.
news_share_descriptionsubscription_contact


