Erric Permana
30 September 2019•Update: 30 September 2019
JAKARTA
Ada upaya provokasi di wilayah Papua yang menginginkan terjadinya konflik antar masyarakat.
Hal itu dinyatakan oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto dalam rapat terbatas di kantornya paa Senin.
Pemerintah masih berusaha menangani konflik tersebut, termasuk mencegah adar tidak meluas menjadi konflik horizontal.
"TNI dan Kepolisian sedang berusaha memulangkan mahasiswa Papua untuk kembali ke kota studinya serta menangani para pengungsi akibat kerusuhan yang terjadi di beberapa wilayah di Papua," kata Wiranto.
Rapat terbatas itu dihadiri oleh Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Kepala BIN Budi Gunawan, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Menkominfo Rudiantara,
Sebelumnya, jumlah korban meninggal akibat kerusuhan di Wamena terus bertambah, hingga saat ini ada sekitar 31 orang.
Kerusuhan terjadi pada Senin pekan lalu setelah dipicu informasi adanya tindakan rasialis oleh seorang guru terhadap muridnya.
Polisi kemudian menyatakan informasi terkait tindakan rasialis tersebut adalah hoaks.
“Pelaku diduga dari kelompok KNPB (Komite Nasional Papua Barat) sebagai dalang kerusuhan di Wamena,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo kepada Anadolu Agency pada pekan lalu.
KNPB merupakan kelompok pro-kemerdekaan di Papua.
Kerusuhan juga menyebabkan kantor Bupati Wamena, kantor PLN, kantor kejaksaan, Kantor Urusan Agama, ratusan ruko dan puluhan unit kendaraan rusak akibat dibakar massa.
Masyarakat mengungsi ke empat tempat yakni Polres Jayawijaya, Kodim 1702/Jayawijaya, gedung DPRD Jayawijaya dan Gedung Oikumerek Asso Wamena.
Polisi masih mencari pelaku penyebar informasi hoaks yang memicu mobilisasi massa yang berujung pembunuhan, penganiayaan dan pembakaran fasilitas umum.
Gejolak di Wamena bermula pada Senin pukul 07.15 WIT ketika sejumlah anak sekolah dari SMA PGRI berdemonstrasi di halaman sekolah sebagai respons terhadap tindakan rasialis seorang guru terhadap siswanya.
Mereka mengajak siswa dari sekolah yayasan Yapis dan masyarakat untuk ikut unjuk rasa, namun siswa di sekolah Yapis menolak sehingga terjadi gesekan antara kelompok.