Sahin Demir
25 Juli 2026•Update: 25 Juli 2026
Iran pada Jumat menegaskan tidak akan menerima gencatan senjata sementara dengan Amerika Serikat sebelum tuntutannya terkait Selat Hormuz dipenuhi.
Di saat yang sama, Teheran memperingatkan akan memperluas konflik jika kembali diserang, sementara seorang komandan militer Iran mengancam setiap warga Iran yang tewas akan dibalas dengan kematian seorang personel militer AS.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran tidak akan membahas gencatan senjata sementara "selama tuntutan kami terkait Selat Hormuz belum dipenuhi", saat berbicara di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Cholpon-Ata, Kirgizstan, menurut media Iran.
"Selama tujuan dan tuntutan sah rakyat Iran belum tercapai, sudah sewajarnya kami akan terus melanjutkan langkah kami," kata Araghchi.
Ia menegaskan Iran tidak akan tunduk pada "tekanan, ancaman, atau intimidasi" dan akan terus mempertahankan kepentingannya, termasuk terkait Selat Hormuz.
Pakistan sampaikan usulan, Iran tetap menolak
Araghchi mengatakan Pakistan telah menyampaikan sejumlah usulan sebagai mediator, namun menurutnya persoalan antara Teheran dan Washington "bukan soal mediasi, melainkan soal pendekatan Amerika Serikat."
Ia juga mengatakan konsultasi dengan Rusia dan China masih berlangsung. Menurutnya, ia telah mengadakan pembicaraan mendalam dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di sela-sela pertemuan SCO.
Sementara itu, The New York Times, mengutip pejabat Iran dan Irak, melaporkan Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi sebelumnya membawa proposal gencatan senjata dari Amerika Serikat saat berkunjung ke Teheran setelah bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.
Menurut laporan tersebut, Iran menolak proposal itu karena tidak mengakomodasi tuntutan mengenai penguasaan Selat Hormuz. Laporan itu hingga kini belum dikonfirmasi oleh otoritas Iran.
Iran ancam perluas perang jika kembali diserang
Laporan The New York Times juga menyebut para pejabat Iran tengah mempersiapkan kemungkinan konflik yang lebih luas apabila Trump merealisasikan ancamannya untuk menyerang Teheran dan infrastruktur penting lainnya.
Dua pejabat Iran mengatakan kepada surat kabar itu bahwa serangan baru dari AS akan mendorong Teheran memperluas perang ke tingkat regional, termasuk dengan menargetkan Tel Aviv serta meminta kelompok Houthi di Yaman menutup Selat Bab al-Mandab.
Menurut laporan tersebut, usulan gencatan senjata yang dibawa Al-Zaidi merupakan satu-satunya proposal yang saat ini diajukan kepada Iran.
Komandan Iran ancam personel militer AS
Di tengah meningkatnya ketegangan, Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, mengumumkan kebijakan baru yang disebutnya sebagai aturan resmi di medan perang.
Ia mengatakan setiap warga Iran yang terbunuh akan dibalas dengan kematian seorang personel militer Amerika Serikat.
"Kami menganggap aturan yang sebelumnya telah kami tunjukkan pelaksanaannya kepada musuh kini menjadi rumusan yang pasti dan telah diumumkan secara resmi di medan perang mulai saat ini," katanya, menurut penyiar pemerintah IRIB.
"Untuk setiap warga Iran yang gugur sebagai syahid, satu personel militer Amerika akan dikirim ke neraka," tambah Abdollahi.
Ia juga memperingatkan pasukan AS bahwa Iran telah menyiapkan "tiket gratis dan langsung menuju neraka" bagi mereka.
Ketegangan terus meningkat
Ketegangan di kawasan meningkat dalam dua pekan terakhir setelah Presiden AS Donald Trump pada 8 Juli menyatakan gencatan senjata yang diatur dalam Nota Kesepahaman Islamabad tidak lagi berlaku.
Sejak itu, Amerika Serikat dan Iran terus saling melancarkan serangan. Washington menargetkan sejumlah lokasi di Iran, sementara Teheran mengklaim telah menyerang fasilitas dan peralatan militer AS di beberapa negara di kawasan. Konflik tersebut juga memicu gangguan pelayaran di Selat Hormuz serta meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan dan pasokan energi global.