Berk Kutay Gokmen
25 Juli 2026•Update: 25 Juli 2026
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar rapat dengan para penasihat senior dan anggota kabinet pada Jumat untuk membahas kemungkinan memperluas operasi militer terhadap Iran.
Pertemuan itu digelar ketika Washington kembali mengevaluasi kebijakannya setelah gencatan senjata dengan Teheran runtuh dan perundingan mengenai kesepakatan denuklirisasi jangka panjang menemui jalan buntu.
Mengutip laporan The New York Times, Trump mengadakan pertemuan tersebut di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam wawancara dengan Axios pada Kamis, Trump mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan serangan militer dalam skala yang jauh lebih besar.
"Saya sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran, lebih besar dari sebelumnya. Saya hampir mengambil keputusan. Kami sudah siap untuk itu," kata Trump.
Trump juga mengisyaratkan Israel kemungkinan tidak akan terlibat dalam eskalasi baru tersebut. Ia memperingatkan bahwa Israel dapat menghadapi "konsekuensi", yang tampaknya merujuk pada potensi serangan balasan dari Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump di Washington pekan depan.
Gencatan senjata runtuh
Trump berulang kali menggambarkan operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel sebagai operasi singkat. Namun, menurut laporan tersebut, konflik kini telah berlangsung hampir lima bulan.
Gencatan senjata berakhir setelah Iran melancarkan serangan pesawat nirawak terhadap sebuah kapal kargo di Selat Hormuz, yang kemudian diikuti serangkaian serangan terhadap pelayaran. Amerika Serikat selanjutnya kembali melancarkan serangan ke Iran dan memberlakukan kembali blokade militernya di selat tersebut.
Iran dinilai tetap siap hadapi konflik berkepanjangan
Dalam dua pekan terakhir, serangan Iran terhadap kepentingan Amerika Serikat, termasuk terhadap sebuah pangkalan militer di Yordania, dilaporkan menewaskan empat personel militer AS.
Laporan itu menyebut, meski Trump beberapa kali mengancam akan meningkatkan intensitas pengeboman, Iran tetap melanjutkan serangannya.
Pemerintah AS juga menilai sebagian pemimpin Iran saat ini memiliki sikap yang lebih keras dibandingkan para pemimpin yang tewas dalam operasi militer gabungan AS-Israel sebelumnya.
Meski menghadapi tekanan ekonomi dan kemampuan militer yang melemah, kepemimpinan Iran dinilai lebih siap menghadapi konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat dibandingkan presiden AS mana pun.