Hayati Nupus
29 September 2017•Update: 30 September 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Data terakhir yang
dikeluarkan Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) menyebutkan jumlah
pengungsi Gunung Agung di Bali mencapai 144.389 jiwa hingga Jumat siang.
Meskipun jumlah
pengungsi cukup besar, semua pengungsi hidup dalam kondisi rukun dan tetap
bergotong royong. Hal ini dikarenakan masyarakat Bali memiliki kearifan lokal menyama braya, yang berarti gotong
royong dan hidup rukun.
“Semua elemen masyarakat Bali bergerak membantu, ini luar biasa, penanganan pengungsi menjadi lancar,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.
Kearifan lokal ini
menjadi modal sosial yang membentuk masyarakat Bali tangguh menghadapi bencana.
Para pengungsi saat
ini tersebar di 475 titik pengungsian di 9 kabupaten, yaitu Buleleng, Jembrana,
Tabanan, Badung, Bangli, Gianyar, Denpasar, Klungkung dan Karangasem.
Jumlah pengungsi
paling banyak di Karangasem 49.579 jiwa di 112 titik pengungsian dan Klungkung
27.369 jiwa di 172 titik pengungsian.
Sementara itu aktivitas
kegempaan, sepanjang Jumat pagi 06.00-12.00 waktu setempat telah terjadi 173
gempa vulkanik dalam, 54 gempa vulkanik dangkal dan 11 gempa tektonik lokal.
Pusat Vulkanologi
dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Agung naik dari
level Siaga menjadi Awas sejak Jumat 22 September pukul 20.30 WITA lalu.
PVMBG menghimbau masyarakat untuk tak beraktivitas di dalam radius 9 km dari kawah gunung dan 12 km di sektor utara-timur laut dan tenggara-selatan-barat daya.