Muhammad Latief
25 September 2017•Update: 26 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksikan, Senin, bahwa ada 62 ribu jiwa yang harus mengungsi akibat aktivitas vulkanik Gunung Agung di Bali.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan mereka yang harus mengungsi tinggal di kawasan rawan bencana sejauh 9 kilometer (km) dari pusat kawah dan 12 km arah Utara-Timur Laut, Tenggara-Selatan Barat Daya.
“Itu kawasan yang harus kosong,” kata Sutopo.
Sayangnya agak sulit untuk meminta masyarakat mengungsi. Ini karena ada ribuan ternak milik warga yang masih ada di rumah mereka. Masyarakat disekitar gunung tersebut memang mempunya hubungan kultural yang unik dengan ternak-ternak mereka.
Kondisi tersebut hampir sama dengan Gunung Merapi di Yogyakarta meletus tahun 2010. Ada ratusan korban tewas yang terkena awan panas karena mereka tidak mau meninggalkan ternaknya.
Alasan lain masyarakat menolak mengungsi adalah kepercayaan Pure Besakih dan kepercayaan lain di Gunung Agung. Sebagian warga tidak bersedia mengungsi dengan alasan gunung belum meletus.
Menurut data BNPB, hingga Senin ini ada 45.540 jiwa pengungsi. Jumlah ini akan terus berubah karena pada siang hari sebagian warga sempat kembali ke rumah untuk memberi makan ternaknya, lalu mereka kembali ke tempat pengungsian pada sore atau malam hari.
“Setiap enam jam kami data,” ungkapnya.
Kawasan bencana rawan lontaran batu pijar
BNPB sendiri sudah membagi kawasan bencana menjadi tiga, yaitu Kawasan Rawan Bencana (KRB) I yang terancam bahaya dilanda lahar dan kemungkinan perluasan sebaran awan panas.
KRB II yang terancam bahaya awan panas, aliran lava, lahar, lontaran material dan batu pijar.
Kemudian, KRB III yang bisa diterjang awan panas, aliran lava, guguran batu, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat jika terjadi erupsi pada gunung tersebut.
“Petugas terus melakukan penyisiran, menghimbau agar masyarakat mengungsi,” tukasnya