Muhammad Latief
25 September 2017•Update: 26 September 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Aktivitas vulkanik Gunung Agung makin memasuki fase kritis, kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Senin.
Hasil pemantauan Realtime Seicmic Alplitude Measurement (RSAM) mengindikasikan aktivitas vulkanik Gunung Agung meningkat cepat.
Senin ini, dari pukul 00.00 hingga 06.00 WITA, terjadi gempa vulkanik sebanyak 227 kali dan gempa tektonik lokal 14 kali.
Indikasi lainnya adalah penggelembungan tubuh gunung berdasarkan data tiltmeter sejak Agustus hingga September. “Fenomena ini juga bisa dilihat melalui satelit,” katanya.
Sementara pergerakan magma juga semakin mendekati puncak gunung, terindikasi dari meningkatnya gempa vulkanik dangkal pada kedalaman 2-3 meter.
“Besarnya letusan tergantung kekuatan dorongan magma untuk menjebol sumbatan lava yang ada di permukaan,” katanya.
Sumber gempa terdalam berada pada kedalaman 40-50 km dari puncak dan bertambah hingga 10 km. Sumber gempa bergerak dari barat laut, sekitar Gunung Batur ke tenggara.
“Peluang letusan cukup besar, tapi tidak bisa dipastikan waktunya.”
Berdasarkan sejarah, letusan Gunung Agung bersifat eksplosif, melontarkan batuan pijar pecahan lava, hujan piroklastik dan abu vulkanik ke atas. Selain itu, letusan gunung ini juga mengeluarkan awan panas yang suhunya berkisar 600-800 derajat celcius dengan kecepatan 300 km per jam.
Letusan terakhir gunung ini terjadi selama satu tahun, dari 18 februari 1963 hingga 27 Januari 1964. Erupsi gunung menimbulkan kolom letusan setinggi 20 km dengan material vulkanik berupa aerosol sulfat melapisi atmosfer bumi. Akibatnya, suhu bumi mengalami pendinginan 0,4 derajat celcius.
Letusan kala itu merenggut 1.549 nyawa, mengakibatkan 1.700 rumah hancur, 225.000 jiwa kehilangan mata pencaharian, dan 100.000 orang mengungsi.
Bukan itu saja, dampak susulan juga terjadi, yaitu banjir lahar yang menghacurkan permukiman di lereng selatan dan mengakibatkan 200 orang tewas.