Nasional

Kapolri: Terduga teroris Yogyakarta dan Indramayu berhubungan

Tiga terduga teroris di Yogyakarta berasal dari kelompol JAK, sementara yang di Indramayu dari kelompok JAD, kata Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian

Shenny Fierdha Chumaira   | 16.07.2018
Kapolri: Terduga teroris Yogyakarta dan Indramayu berhubungan Ilustrasi - Detasemen Khusus Antiteror 88 saat melakukan penyelidikan di rumah terduga teroris di Tangerang pada 16 Mei 2018. ( Anton Raharjo - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

Shenny Fierdha

JAKARTA

Polisi pada Senin menegaskan bahwa terdapat hubungan antara kelompok teroris di Yogyakarta dengan pasangan suami istri yang menyerang Markas Kepolisian Resor Indramayu, Jawa Barat, baru-baru ini.

Tiga orang terduga teroris yang terlibat baku tembak di Yogyakarta dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror berasal dari kelompok teroris Jemaah Ansharut Khilafah (JAK), sementara pasangan suami istri yang sempat membawa bom panci ke Markas Kepolisian Resor Indramayu berasal dari kelompok teroris Jemaah Ansharut Daulah (JAD).

"JAK ini mendukung JAD, jadi ada hubungannya. Akan kita kembangkan, kita sudah tahu. Masyarakat jangan khawatir. Kita akan tangani," ungkap Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian saat mengunjungi Markas Komando Korps Brigade Mobil Kepolisian Negara Republik Indonesia, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Tito juga membenarkan tindakan tembak mati yang dilakukan oleh Densus 88 Antiteror terhadap para terduga teroris di Yogyakarta mengingat mereka menyerang petugas dengan menggunakan senjata tajam, melukai dua orang petugas di bagian pinggang dan lengan (luka bacok).

"Kalau berani menyerang petugas sehingga petugas luka, maka mereka [terduga teroris] akan berhadapan dengan kekuatan mematikan. Kita sikat," tegas Tito.

Selain itu, polisi yang bertugas di Markas Kepolisian Resor Indramayu juga menembak pasangan suami istri, Galuh dan Nurhasanah, yang berusaha menyerang kantor polisi itu dengan menggunakan bom panci.

Tindakan tersebut juga dibenarkan Tito dengan alasan yang sama.

Dia mengatakan bahwa pascabom Surabaya pada Maret, sudah ada sekitar 200 orang terduga teroris yang ditangkap polisi, termasuk yang di Indramayu.

"Kita tidak akan berhenti untuk terus mengembangkan kasus bom Surabaya. Total sejauh ini sudah ada sekitar 200 orang yang diamankan. Kita tidak akan berhenti kecuali mereka [terduga teroris] mau berdialog," terang Tito.

Pada Sabtu malam, Densus 88 Antiteror menembak mati tiga orang terduga teroris di Jalan Raya Kaliurang KM 9,5, Yogyakarta, lantaran mereka melawan saat hendak ditangkap petugas.

Pada Minggu dini hari, Galuh dan Nurhasanah membawa bom panci ke Markas Kepolisian Resor Indramayu dengan mengendarai sepeda motor, namun bom tidak meledak.

Polisi yang sedang berjaga lantas menembak keduanya, namun mereka berhasil kabur dengan luka tembak. Senin dini hari, polisi berhasil menangkap mereka, yang kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Losarang-Indramayu untuk dirawat.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.