28 Juli 2017•Update: 28 Juli 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Sepanjang Januari-Juni 2017, terdapat 161 orang WNI yang dideportasi karena hendak bergabung dengan al-Dawla al-Islamiya al-Iraq al-Sham (Daesh) dan telah kembali ke tanah air. Tiap deportan memiliki tingkat radikalisme berbeda, bergantung kloter kepulangan mereka.
Seperti dituturkan Seksi Rehabilitasi Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Handayani Bambang Wibowo, terdapat 6 kloter kepulangan WNI dari Turki. Secara umum, kloter 1-3 memiliki tingkat radikalisme berbahaya, sedang kloter 4-6 tidak.
Tingkat radikalisme berbahaya pada kloter 1-3 tampak dalam pola komunikasi deportan dengan relawan PSMP Handayani dan C-SAVE ketika mereka pertama kali bertemu. Deportan menolak uluran tangan dan tak menjawab salam. Mereka bahkan tak mau menyentuh makanan yang disodorkan. “Mereka menganggap kita ini bagian dari kafir,” ujar Bambang, dalam diskusi Media yang Berempati: Mengenal Deportan Berafiliasi ISIS, di PSMP Handayani, Jakarta Timur, Jum'at.
Mereka, ujar Executive Program Assistant C-SAVE Ardhiana Fitriyanie, sudah mendeklarasikan diri tak mau tinggal di Indonesia. Mereka tak sepakat dengan Pancasila karena dianggap ajaran kafir. Berbekal keyakinan sekarang adalah akhir jaman, mereka hendak mencari tempat lebih baik, yaitu di negeri Syam: Palestina, Yaman, Suriah.
“Mereka hanya dapat info dari Telegram bahwa Suriah tanah yang dijanjikan, aman, indah dan damai. Mereka ingin tinggal di sana sampai mati. Beberapa bahkan ingin kembali ke sana jika memperoleh kesempatan,” katanya.
Sedang deportan kloter 4-6 berlaku sebaliknya. Mereka bersyukur bisa kembali ke tanah air dan berterima kasih pada pemerintah atas kesediaan menerima mereka kembali.
Sejumlah 161 WNI tersebut sebagian besar dideportasi Turki. Mereka ditangkap militer Turki ketika hendak menyeberang ke Suriah. Beberapa lainnya merupakan buruh migran Indonesia yang bekerja di Filipina, Singapura, Turki dan Jepang.
Sebelum kembali ke kampung halaman masing-masing, mereka diikutkan dalam program deradikalisasi di PSMP Handayani, Bambu Apus, Jakarta Timur, selama 2-4 pekan.
Berdasarkan data pemerintah, lebih dari 1000 orang WNI telah berangkat ke Suriah demi bergabung dengan Daesh. Selain 161 orang yang telah kembali, diperkirakan ada 500 orang WNI lagi yang akan dideportasi dari Turki tahun ini.