Shenny Fierdha
JAKARTA
Pemerintah menilai kemampuan berpikir kritis dan menghargai perbedaan harus dimiliki siswa untuk mencegah dirinya terpengaruh paham radikalisme.
Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Totok Suprayitno, paham radikalisme pada umumnya bertentangan dengan rasionalisme dan pemikiran logis sehingga kemampuan berpikir kritis tentunya diperlukan siswa dalam melawan radikalisme.
"Kemampuan berpikir kritis itu ibarat mata uang dalam menangkal paham radikal. Anak akan lebih mudah memahami apakah suatu paham termasuk radikal atau tidak jika dibekali dengan penalaran yang baik," jelas Totok di Jakarta, Jumat.
Namun ironisnya, sebut dia, kemampuan berpikir kritis terbelenggu di dalam sekolah itu sendiri.
Totok mengatakan bahwa kemampuan berpikir kritis di sekolah sulit berkembang karena adanya "piramida hierarkis" di mana guru selalu benar.
Jika siswa memiliki pendapat yang berbeda dari guru maupun teman sekolahnya sendiri, maka siswa tersebut dianggap salah atau melawan.
"Kita membicarakan berpikir kritis tapi saat masuk kelas, praktiknya itu diktator. Ujian pilihan ganda pun seperti itu. Misal, jika siswa tidak menjawab A, maka dia dibilang salah," kecam Totok.
Padahal, lanjut dia, bisa saja ada alasan unik dan kritis di balik perbedaan jawaban siswa yang merupakan wujud daya pikir kritis siswa.
Keragaman adalah sumber daya
Totok juga berpendapat bahwa siswa harus dibiasakan menghargai perbedaan, sebab salah satu penyebab radikalisme ialah ketidakmampuan mengapresiasi hal-hal yang berbeda.
"Kalau sekolah mengeksklusifkan diri sendiri, hanya terbuka untuk agama tertentu atau untuk kalangan kaya saja, maka sekolah sudah kehilangan sumber daya berupa keragaman itu sendiri," ujar Totok.
Sekolah seperti itu, menurut dia, membuat siswa hanya mengenal orang yang sama dengannya, misalnya sama kayanya dengan diri siswa atau seiman dengan siswa, sehingga tidak terbiasa dengan perbedaan.
Dia juga menyayangkan institusi pendidikan yang pada umumnya menyeragamkan perbedaan, bahwa siswa dinilai baik jika memiliki prestasi akademis yang baik.
Padahal setiap siswa adalah unik dan berbeda, yang keunggulannya sebagai individu tidak semata-mata tercermin dari nilai bagus di rapor.
"Bisa saja siswa tergolong biasa saja secara akademis tapi di sisi personal dia adalah siswa yang sangat empati, toleran, dan menghormati perbedaan," tukas Totok.
Guna menghidupkan sikap hormat dan apresiatif terhadap perbedaan, alangkah baiknya jika pelajaran agama di sekolah dibuat lebih berbasis praktik dan interaktif.
Misal, sekolah bisa mengajak siswa ke berbagai rumah ibadah untuk melihat ritual penganut agama lain.
"Ajarkan juga bahwa hal-hal kecil seperti menghargai perbedaan pendapat dalam debat, bersikap jujur, juga merupakan hal yang dinilai baik dalam agama," tutup Totok.
news_share_descriptionsubscription_contact



