Pizaro Gozali Idrus
10 November 2020•Update: 12 November 2020
JAKARTA
Ekonomi digital Asia Tenggara akan mencapai USD105 miliar atau Rp1.470 triliun pada 2020, ujar laporan yang dikeluarkan Google, investor negara Singapura Temasek Holdings pada Selasa.
Nilai tersebut bisa diraih setelah wabah Covid-19 mendorong konsumen berbelanja secara online baik makanan maupun hiburan.
Laporan tersebut, yang mencakup Indonesia, Malaysia, Vietnam, Singapura dan Filipina, mengatakan sebanyak 40 juta pengguna internet baru pada 2020 tumbuh di Asia Tenggara sehingga total menjadi 400 juta.
Jumlah ini menunjukkan 70 persen populasi di wilayah Asia Tenggara kini tersambung internet, tambah laporan itu.
"Virus korona telah menciptakan lonjakan pengguna aplikasi digital permanen dan masif," tulis laporan tersebut.
Ekonomi internet Asia Tenggara tumbuh 5 persen dari 2019.
Pedagang online menjadi pihak yang paling diuntungkan sebagai dampak pemberlakuan karantina wilayah, karena orang lebih suka berbelanja dari rumah daripada pergi ke toko.
Bisnis e-commerce Asia Tenggara diprediksi akan tumbuh 63 persen tahun ini hingga nilai USD62 miliar, dan mencapai pertumbuhan tertinggi tahun ini.
Sementara bisnis travel online mengalami kontraksi 58 persen menjadi USD14 miliar.
Ekonomi internet Singapura turun 24 persen menjadi USD9 miliar karena pandemi telah mencekik sektor perjalanan.
Sementara Vietnam dan Indonesia terus tumbuh pada tingkat dua digit.
Industri digital diprediksi akan tembus US$309 miliar dari sisi gross merchandise value (GMV) pada 2025, sejalan dengan prediksi yang dibuat tahun lalu sebesar USD300 miliar.
Dengan peningkatan pengguna online sebesar 11 persen, Asia Tenggara adalah salah satu pasar internet dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Dibandingkan dengan sekitar 4,7 miliar pengguna internet di seluruh dunia, pengguna internet di kawasan ASEAN naik 7,4 persen dari tahun lalu, menurut wearesocial.com, layanan pemantauan digital.
Pertumbuhan ini telah membantu startup unicorn seperti Grab dan Gojek menarik dana miliar dolar dari investor global.
Meski begitu pandemi membuat suntikan dana investor ke startup Asia Tenggara menurun.
Pada semester pertama 2019, total suntikan dana investor mencapai USD7,7 miliar.
Sedangkan pada semester pertama 2020, total suntikan dana investor ke startup Asia Tenggara hanya USD6,3 miliar.