27 Juli 2017•Update: 27 Juli 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan, prospek perekonomian Indonesia kini lebih menjanjikan dibanding negara-negara ASEAN lain. Pada kuartal I/2017 ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,01 persen, lebih tinggi dibanding kuartal IV/2016 yang hanya sekitar 4,94 persen, atau dibandingkan kuartal I/2016 sebesar 4,92 persen.
“Semua menunjukan terus perbaikan. Jadi secara singkat (pertumbuhan ekonomi) Indonesia yang pada 2015 hanya 4,8 persen, pada 2016 sebesar 5,02 persen dan sekarang ekonomi Indonesia akan tumbuh pada kisaran 5-5,4 persen. Ini kondisi yang bagus, dibandingkan ASEAN, Indonesia pertumbuhan ekonominya lebih menjanjikan,” jelasnya di Jakarta, Kamis.
Namun, angka tersebut sebagian besar masih disumbang oleh pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa, sekitar 48 persen. Sedangkan Sumatera sekitar 22 persen. Jadi Jawa dan Sumatera menyumbang besar.
Dengan kondisi ini, maka wajar jika pemerintah kini berusaha mengejar ketertinggalan infrastruktur di luar Pulau Jawa. Karena itu, kata Agus, BI menyambut baik insiatif pemerintah yang mengejar ketertinggalan ini agar daya saing baik dan menarik investgasi. Sehingga “akan membantu pertumbuhan ekonomi kita agar rakyat sejahtera,”ujarnya.
Demikian juga dengan kinerja mata uang. Nilai tukar rupiah memang berada pada situasi ketidakpastian, namun ternyata, kinerja rupiah paling baik performanya, bahkan nomer dua setelah Yen. Pada Januari 2017, masih terjadi penguatan 1,22 persen ditengah pelemahan mata uang negara-negara lain.
Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal (BPKM) Thomas Lembong mengatakan, Indonesia baru saja mendapatkan kenaikan peringkat investasi dari lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) menjadi BBB-/A-3 dengan outlook stabil.
“Amerika peringkatnya pernah diturunkan oleh S&P dan China pernah diturunkan peringkatnya oleh Moody’s,” ujarnya.