Iqbal Musyaffa
16 Januari 2020•Update: 18 Januari 2020
JAKARTA
Bank Indonesia mengatakan penguatan rupiah memberikan dampak positif terhadap perekonomian Indonesia.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan rupiah bukan satu-satunya mata uang yang menguat, karena penguatan juga dialami oleh beberapa mata uang lainnya.
“Kalau dalam jangka pendek sebenarnya banyak yang diuntungkan, pertama akan membuat impor menjadi lebih murah untuk investasi barang modal,” ujar Dody di Jakarta, Kamis.
Selain itu, penguatan rupiah juga berdampak positif untuk mendorong investasi konsumsi yang dibutuhkan.
Dody menambahkan penguatan rupiah juga berdampak positif bagi inflasi agar tetap rendah. Selain itu, korporasi yang memiliki utang valas dalam jangka pendek akan terbantu dengan menguatnya rupiah, khususnya pada sisi biaya ongkos produksi dari komponen valas yang berkurang sehingga membantu kesehatan keuangan korporasi.
“Belum lagi investor asing yang masuk ke Indonesia semakin banyak karena return lebih menarik dibandingkan negara maju,” tambah Dody.
Dia mengatakan investor asing juga mendapatkan untung dari apresiasi rupiah selain dari perbedaan suku bunga sehingga secara keseluruhan akan sangat efektif bagi kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
“Tetapi memang untuk jangka panjang kalau penguatan rupiah dibiarkan, maka daya saing ekspor kita akan turun karena dampak dari produk ekspor kita yang sensitif dengan nilai tukar, khususnya untuk produk manufaktur,” kata dia.
Oleh karena itu, Dody mengatakan BI akan mengawal pergerakan rupiah baik pada saat melemah ataupun menguat, sepanjang pergerakannya masih sesuai dengan mekanisme pasar.
“Kalau dirasa sudah di luar fundamental, BI akan masuk untuk menjaga agar sesuai fundamental,” imbuh Dody.
Dody mengatakan saat ini nilai tukar rupiah masih sesuai dengan fundamental karena data neraca pembayaran Indonesia triwulan IV diprediksi lebih tinggi dari triwulan III.
Selain itu, inflasi 2019 yang sebesar 2,72 persen juga menjadi yang terendah dalam 20 tahun terakhir. Kemudian, defisit neraca perdagangan Indonesia pada 2019 mengecil menjadi USD3,11 miliar serta defisit transaksi berjalan yang dapat tertutupi dari surplus neraca modal dan aliran modal asing masih terus masuk.
Dody mengatakan neraca pembayaran Indonesia tahun 2019 akan membaik dengan defisit transaksi berjalan di kisaran 2,5-3 persen yang bisa tertutupi dari aliran modal asing yang masuk sehingga membuat rupiah semakin stabil.
“Itulah kenapa rupiah menguat didorong fundamental ekonomi kita dan memang kondisi global pada tahun ini,” ujar dia.