Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD2 miliar pada bulan November.
Sementara sepanjang tahun dari Januari-November, defisit neraca perdagangan mencapai USD7,52 miliar
Defisit neraca perdagangan menurut BPS antara lain karena kinerja ekspor Indonesia untuk bulan November masih loyo karena hanya mencatatkan angka USD14,83 miliar atau lebih rendah 6,69 persen dari bulan Oktober.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan ekspor pada November tahun ini juga turun 3,28 persen dari November tahun lalu.
“Penurunan terbesar ekspor sektor nonmigas pada November 2018 terhadap Oktober 2018 terjadi pada perhiasan atau permata sebesar USD342,1 juta (52,48 persen),” ujar Suhariyanto dalam konferensi pers, Senin.
Sementara itu, peningkatan ekspor terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar USD220,6 juta (80,23 persen).
Suhariyanto menjelaskan ekspor nonmigas hasil industri pengolahan periode Januari–November 2018 naik 4,5 persen dibanding periode yang sama tahun 2017, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya naik 25,56 persen, sementara ekspor hasil pertanian turun 7,58 persen.
Ekspor nonmigas November 2018 terbesar ujar dia, adalah ke Tiongkok yaitu USD2,01 miliar, disusul Amerika Serikat USD1,46 miliar dan Jepang USD1,36 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 35,87 persen.
“Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar USD1,37 miliar,” jelas Suhariyanto.
Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari–November 2018 ungkap Suhariyanto, mencapai USD165,81 miliar atau meningkat 7,69 persen dibanding periode yang sama tahun 2017.
“Untuk ekspor nonmigas periode Januari-November tahun ini mencapai USD150,15 miliar atau meningkat 7,47 persen dari periode sama tahun lalu,” ujar Suhariyanto.
Kemudian nilai impor Indonesia pada bulan November 2018 mencapai USD16,88 miliar atau turun 4,47 persen dibanding Oktober 2018, namun jika dibandingkan November 2017 naik 11,68 persen.
“Impor nonmigas November 2018 mencapai USD14,04 miliar atau turun 4,8 persen dibanding Oktober 2018, sebaliknya jika dibanding November 2017 meningkat 8,79 persen,” jelas dia.
Kemudian untuk impor migas pada November 2018 ungkap Suhariyanto, mencapai USD2,84 miliar atau turun 2,8 persen dibanding Oktober 2018, namun meningkat 28,62 persen apabila dibandingkan November 2017.
Penurunan impor nonmigas terbesar November 2018 dibanding Oktober 2018 adalah pada golongan mesin/peralatan listrik sebesar USD201,1 juta (10,04 persen), sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan minuman sebesar USD75,3 juta (470,63 persen).
Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–November 2018 ditempat oleh Tiongkok dengan nilai USD40,85 miliar (28,07 persen), Jepang USD16,61 miliar (11,41 persen), dan Thailand USD10,09 miliar (6,94 persen).
“Impor nonmigas dari ASEAN 20,08 persen, sementara dari Uni Eropa 8,93 persen,” tambah Suhariyanto.
Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal selama Januari–November 2018 ungkap dia, mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 23,72 persen, 21,44 persen, dan 24,80 persen.