Pizaro Gozali İdrus
01 November 2017•Update: 02 November 2017
Pizaro Gozali İdrus
JAKARTA
Indeks kepuasaan jemaah haji Indonesia mencapai angka memuaskan sebesar 84,85 persen. Angka ini naik 1,02 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 83,83 persen. Hal ini adalah pencapaian tertinggi dalam tujuh tahun terakhir pelaksanaan ibadah haji
“Kenaikan hampir terjadi di seluruh jenis pelayanan kecuali pelayanan Armina (Arofah, Muzdalifah, dan Mina) yang meliputi tenda, bus, dan catering,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto saat merilis indeks kepuasaan jemaah haji Indonesia di Jakarta, Rabu.
Metode penelitian dilakukan dengan memberikan kuesioner secara acak pada 14.400 jemaah pada dua gelombang jemaah haji. Selain itu, BPS juga melakukan wawancara dan observasi untuk mendapatkan data kualitatif dan fakta-fakta di lapangan.
Menurut BPS, kenaikan indeks tertinggi terjadi pada pelayanan transportasi bus antar kota sebesar 88,23 persen atau naik 3,11 poin), bus sholawat (naik 2,18 poin), dan pelayanan hotel di di Mekkah dan Madinah (naik 1,75 poin).
Sedangkan, indeks terendah pelayanan haji terjadi pada jenis pelayanan tenda di Armina sebesar 75,55 persen atau turun 1,75 poin, disusul pelayanan transportasi bus Armina turun 1,76 poin, dan pelayanan katering Armina turun 0,19 poin.
Kelemahan pelayanan
Menurut suvei BPS, para jemaah haji mengaku menunggu terlalu lama datangnya bus di wilayah Armina, khususnya perjalanan dari hotel ke Arofah dan dari Arofah ke Muzdalifah.
Jemaah juga merasakan kurangnya armada bus sehingga banyak yang tidak mendapatkan tempat duduk dan terpaksa berdiri di dalam bus.
“Fasilitas di dalam bus banyak tak berfungsi seperti AC tidak dingin dan kursi,” ujar Suhariyanto.
Untuk katering, jemaah merasakan makanan yang disajikan belum memenuhi kriteria cita rasa Indonesia dan variasi menu makanan perlu diperbanyak.
“Perbanyak menu berupa sayuran, khususnya untuk jemaah lansia,” tukas Suhariyanto.
Berdasarkan hasil survei, BPS juga menyoroti penurunan kepuasaan jemaah selama di Mina. BPS mengusulkan tenda di Mina perlu diperluas seiring jumlah jemaah yang kian meningkat.
“Jumlah MCK dan tempat wudhu juga perlu penambahan serta dibedakan antara pria dan wanita,” jelas dia.
Armina di bawah Arab Saudi
Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin mengaku bersyukur atas pencapaian ini. Sebab, awalnya, pemerintah tak terlalu percaya diri untuk mendapatkan indeks memuaskan dalam pelaksanaan haji kali ini.
“Jumlah jemaah haji Indonesia tahun ini 221.000 orang naik 52.200 orang dari tahun sebelumnya, sementara penambahan petugas hanya 250 orang,” ujar dia.
Menteri Lukman memahami mengapa pelayanan di wilayah Armina mengalami penurunan karena di situlah puncak keletihan ibadah haji.
“Puncak ibadah haji adalah di Arofah di mana semua orang dan negara berkumpul di sana,” ujar dia.
Dia menambahkan pemerintah Indonesia tidak memiliki kekuasaan untuk mengatur transportasi bus, tenda, dan katering karena semuanya berada dalam otoritas pihak Arab Saudi.
“Jadi ini bukan excuse, tapi kita sudah memprediksi bahwa pelayanan terendah berada di Arofah,” kata dia.