Can Efesoy, Sercan Irkin, Diyar Guldogan
13 Agustus 2026•Update: 13 Agustus 2026
Turkiye akan terus memainkan peran konstruktif sekaligus menjadi mediator untuk menjembatani perbedaan antara kubu Libya timur dan barat, kata Menteri Luar Negeri Hakan Fidan, sambil menyampaikan optimisme terhadap perundingan yang bertujuan menyatukan kembali negara tersebut.
“Kami akan terus menjalankan peran konstruktif di sini, sekaligus peran kami sebagai mediator,” kata Fidan kepada wartawan di Benghazi setelah menyelesaikan pertemuan di Tripoli dan Benghazi dalam kunjungannya ke Libya.
Fidan mengatakan pertemuannya dengan para pemimpin dari kedua kubu politik Libya memberikan kesan “positif”, dengan dukungan luas terhadap upaya penyatuan kembali negara tersebut.
Ia mengatakan para pejabat di Tripoli sangat mendukung upaya menyatukan kembali Libya timur dan barat, meskipun perundingan berlangsung dengan sejumlah persyaratan.
Di Benghazi, Fidan bertemu dengan Khalifa Haftar, komandan pasukan di Libya timur; wakilnya, Jenderal Saddam Haftar; Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aguila Saleh; serta Belkacem Haftar, kepala Dana Pembangunan dan Rekonstruksi Libya.
“Mereka semua merupakan aktor penting di Benghazi dan juga sangat mendukung integrasi serta penyatuan kembali Libya,” kata Fidan.
Ia menekankan bahwa hubungan Turkiye yang seimbang dengan Libya timur maupun barat mendapat apresiasi luas.
“Kemampuan Turkiye mempertahankan hubungan dengan timur dan barat secara setara, serta menjadi negara yang secara tulus dan realistis menginginkan persatuan dan keutuhan wilayah Libya, sangat dihargai di sini,” kata Fidan.
Fidan mengatakan masyarakat Libya di kedua kubu menyadari potensi kekuatan dan kemakmuran yang dapat muncul dari negara yang bersatu.
Ia mengatakan penyatuan kembali Libya tidak hanya dapat membantu menyelesaikan persoalan negara tersebut, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan bagi Afrika, dunia Islam dan kawasan yang lebih luas.
“Ada sejumlah hambatan. Kami akan membahas hambatan-hambatan ini dengan lembaga terkait dan rekan-rekan kami. Kami juga perlu melakukan konsultasi dengan negara-negara lain,” tambahnya.
Fidan juga menyinggung usulan AS terkait proses tersebut dengan mengatakan Washington mendorong inisiatif itu melalui konsultasi dengan Turkiye.
Ia menambahkan Turkiye berkoordinasi dengan AS, Mesir dan negara-negara lain di kawasan untuk membantu mendorong kemajuan perundingan.
Libya mengalami perpecahan politik dan konflik selama bertahun-tahun sejak pemberontakan 2011 yang menggulingkan pemimpin lama Muammar Gaddafi.
Fidan mengatakan negara tersebut memasuki periode yang relatif tenang sejak 2019 dan menyebut kebijakan luar negeri Turkiye di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan memberikan kontribusi konstruktif dalam menjaga stabilitas.
Hubungan ekonomi Turkiye-Libya semakin berkembang
Fidan juga menyoroti hubungan ekonomi yang semakin berkembang antara Turkiye dan Libya dengan mengatakan kontraktor Turkiye mengerjakan proyek-proyek besar di Tripoli maupun Benghazi.
“Pekerjaan profesional, berkualitas dan bermutu tinggi yang dilakukan perusahaan-perusahaan Turkiye sangat dihargai dan mendapat pengakuan dari kedua pihak,” kata Fidan, seraya menambahkan lebih banyak perusahaan Turkiye perlu memasuki pasar Libya.
Fidan mengatakan Libya tidak hanya membutuhkan lebih banyak perusahaan konstruksi Turkiye, tetapi juga perusahaan industri yang mampu mendirikan pabrik di negara tersebut.
Ia menyoroti sumber daya energi Libya yang melimpah, biaya tenaga kerja yang relatif rendah serta akses pasar yang menguntungkan bagi sejumlah produk sebagai faktor yang dapat menarik investasi.
“Kami berupaya menggunakan hubungan baik yang telah kami bangun dengan timur dan barat untuk membantu kedua pihak bersatu dan mewujudkan Libya yang tunggal, berdaulat dan merdeka,” kata Fidan.
Fidan selanjutnya dijadwalkan mengunjungi Mesir, yang ia sebut sebagai “sahabat dan sekutu” yang bekerja sama erat dengan Turkiye dalam berbagai isu regional, termasuk konflik dan krisis di Teluk dan Palestina.