Iqbal Musyaffa
16 Oktober 2017•Update: 16 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis nilai tukar rupiah hanya terdepresiasi oleh Dolar Amerika sebesar 0,23 persen sepanjang September. Sementara dibanding mata uang lainnya seperti Yen Jepang, Euro, dan Dolar Australia, rupiah justru menguat.
Kepala BPS Suhariyanto pada Senin mengatakan level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap Dolar Amerika terjadi pada pekan keempat September yang mencapai Rp13.352,92 per dolar Amerika.
Berdasarkan provinsi, Suhariyanto mengatakan level terendah rupiah terhadap Dolar Amerika terjadi di Sulawesi Utara dengan nilai tukar mencapai Rp13.430,50 per dolar Amerika. “Ini terjadi juga pada pekan keempat September,” ujar dia.
Kemudian, lanjut Suhariyanto, nilai tukar rupiah terhadap Dolar Australia justru terapresiasi 0,5 persen. Level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap Dolar Australia terjadi pada minggu keempat September di level Rp10.504,47 per Dolar Australia.
Sementara Papua menjadi provinsi dengan level tertinggi kurs tengah rupiah atas Dolar Australia sebesar Rp10.218,13 per Dolar Australia pada pekan keempat September.
Begitupun dengan Yen Jepang, rupiah menguat 1,79 persen selama September. Suhariyanto menyebut level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap Yen Jepang terjadi pada minggu ketiga dengan nilai Rp118,71 per Yen Jepang.
“Level tertinggi kurs tengah rupiah terhadap Yen Jepang terjadi di NTT dengan nilai Rp112,5 per Yen Jepang pada minggu keempat September,” ungkap dia.
Rupiah juga terapresiasi sebesar 0,84 persen terhadap Euro pada September. Menurut Suhariyanto, level tertinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap Euro terjadi pada pekan kedua September yang mencapai Rp15.739,99 per Euro.
“Sedangkan berdasarkan provinsi, level tertinggi kurs tengah ada di provinsi Papua, mencapai Rp15.233,88 per Euro pada minggu kedua,” tambah dia.
BPS juga melaporkan informasi nilai tukar eceran rupiah secara periodik. Statistik yang dihasilkan dapat digunakan untuk melihat pengaruh nilai tukar transaksi besar terhadap nilai tukar transaksi eceran, perkembangan nilai tukar rupiah transaksi eceran, serta melengkapi informasi yang beredar di internet secara langsung.
Nilai tukar mata uang yang dipantau adalah yang digunakan untuk transaksi besar yang meliputi ekspor, impor, swap, serta derivatif yang dilaporkan secara periodik oleh BI.
Selain itu, BPS memantau transaksi eceran penukaran mata uang melalui money changer yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Pantauan ini untuk menggambarkan tingkat retail spot rate suatu mata uang,” jelas dia.
Mata uang asing yang dimonitor dalam berita resmi statistik menurut dia adalah mata uang yang hampir selalu diperdagangkan di 34 provinsi seluruh Indonesia.