İqbal Musyaffa
18 Mei 2018•Update: 19 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI 7-days Reverse Repo Rate sebanyak 25 bps menjadi 4,50 persen, seusai rapat dewan gubernur BI pada Kamis malam di Jakarta.
Selain itu, BI juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen yang berlaku efektif sejak 18 Mei 2018.
Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan bertujuan sebagai bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makro ekonomi Indonesia di tengah kondisi pasar keuangan global yang penuh ketidakpastian dan penurutan likuiditas global.
“Bank Indonesia juga melanjutkan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai kondisi fundamentalnya dengan tetap mendorong bekerjanya mekanisme pasar,” ungkap Agus.
Kebijakan tersebut, menurut Agus, ditopang oleh pelaksanaan operasi moneter yang diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas, baik di pasar valas maupun pasar uang.
Selain itu, BI juga menerapkan kebijakan makroprudensial, diantaranya dengan tetap mempertahankan Countercyclical Capital Buffer (CCB) sebesar 0 persen untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong fungsi intermediasi perbankan.
“Koordinasi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta memperkuat implementasi reformasi struktural,” tambah dia.
BI, menurut Agus, memandang bauran kebijakan yang telah ditempuh sebelumnya dan respons saat ini konsisten dengan upaya menjaga inflasi agar tetap berada dalam kisaran sasaran 3,5±1 persen pada 2018 dan 2019 serta mengelola ketahanan sektor eksternal.
“Ke depan, BI akan terus memonitor perkembangan ekonomi dan siap menempuh langkah-langkah yang lebih kuat guna memastikan tetap terjaganya stabilitas makroekonomi,” jelas Agus.
Agus juga mengatakan BI memerhatikan sejumlah risiko perekonomian global yang tetap perlu diwaspadai, antara lain kenaikan Fed Fund Rate dan imbal hasil surat utang AS, kenaikan harga minyak, ketegangan hubungan dagang AS-Tiongkok, serta isu geopolitik terkait pembatalan kesepakatan nuklir antara AS dan Iran.
“Pertumbuhan ekonomi global 2018 diperkirakan semakin baik, meskipun di saat bersamaan sedang berlangsung proses penyesuaian likuiditas global,” imbuh dia.
Di tengah tren penguatan ekonomi dunia, menurut Agus, likuiditas dolar AS cenderung mengetat, yang kemudian mendorong kenaikan imbal hasil surat utang AS dan penguatan dolar AS sehingga menekan banyak mata uang lainnya.
Gubernur yang akan segera mengakhiri masa jabatannya tersebut juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2018 mencapai 3,9 persen, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,8 persen.
Pertumbuhan tersebut, menurut dia, terutama didorong oleh akselerasi ekonomi AS yang bersumber dari penguatan investasi dan konsumsi, di tengah berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter AS.
Pertumbuhan ekonomi di Eropa, kata Agus, juga diperkirakan tumbuh lebih tinggi didukung perbaikan ekspor dan konsumsi serta kebijakan moneter yang akomodatif.
Sementara pada negara berkembang, pertumbuhan ekonomi Tiongkok diperkirakan tetap cukup tinggi ditopang kenaikan konsumsi dan investasi swasta serta proses penyesuaian ekonomi yang berjalan dengan baik.
“Prospek pemulihan ekonomi global yang membaik tersebut akan meningkatkan volume perdagangan dunia yang berdampak pada tetap kuatnya harga komoditas, termasuk komoditas minyak pada 2018,” urai dia.