Rhany Chairunissa Rufinaldo
19 Mei 2020•Update: 19 Mei 2020
Aydogan Kalabalik
TRIPOLI, Libya
Elemen udara tentara Libya menyerang milisi pimpinan panglima perang Khalifa Haftar setelah mereka melarikan diri dari pangkalan udara Al-Watiya yang berhasil direbut kembali, Senin.
Dua kendaraan militer yang dikendarai oleh anggota milisi Haftar, diserang di dekat kamp militer ke-53 di wilayah Tiji yang terletak dekat perbatasan Libya dengan Tunisia setelah melarikan diri dari pangkalan udara Al-Watiya.
Selain itu, sistem peperangan elektronik Krasukha buatan Rusia rusak berat dan tidak dapat digunakan.
Momen yang mengabadikan serangan udara pada sistem itu dibagikan melalui media sosial, tetapi tentara Libya belum memberikan data tentang lokasi serangan udara tersebut.
Pada Senin, tentara Libya mengumumkan mereka berhasil menguasai pangkalan udara Al-Watiya, yang berada di bawah kekuasaan Haftar selama sekitar enam tahun.
Pasukan Haftar melancarkan serangan ke pemerintah Libya sejak April 2019, hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang.
Pemerintah Libya kemudian meluncurkan Operasi Badai Perdamaian pada 26 Maret untuk melawan serangan-serangan di ibu kota.
Sejak penggulingan pemerintahan Muammar Khaddafi pada 2011, dua poros kekuasaan yang saling bersaing muncul di Libya, satu di Libya Timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan satu lagi di Tripoli yang mendapat pengakuan PBB dan internasional.