NEW YORK
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda Amerika Serikat menunjukkan percepatan signifikan pada awal 2026, mencerminkan perubahan struktural mendalam dalam dunia kerja seiring perusahaan semakin mengandalkan otomatisasi, kecerdasan buatan, dan strategi efisiensi biaya.
Data laporan Januari dari perusahaan konsultan Challenger, Gray & Christmas menunjukkan perusahaan-perusahaan AS mengumumkan 108.435 PHK sepanjang Januari, melonjak 118 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi level tertinggi untuk bulan Januari sejak krisis keuangan global 2009, menandai fase baru tekanan di pasar tenaga kerja.
Sektor-sektor yang paling terdampak meliputi transportasi, teknologi, layanan kesehatan, kimia, dan media.
Pola ini mengindikasikan bahwa PHK tidak lagi terbatas pada industri siklikal, melainkan merambah sektor-sektor yang sebelumnya dianggap relatif tahan terhadap guncangan ekonomi.
Di balik lonjakan tersebut, alasan yang dikemukakan perusahaan mencakup kehilangan kontrak, tekanan ekonomi, restrukturisasi internal, penutupan unit usaha, serta percepatan adopsi teknologi baru, khususnya kecerdasan buatan dan otomatisasi.
Fenomena ini menandai penyusutan signifikan lapangan kerja kerah putih. Banyak perusahaan memanfaatkan peningkatan produktivitas berbasis AI untuk menyederhanakan struktur organisasi, memangkas lapisan manajemen, dan mengurangi peran administratif yang dinilai tidak lagi krusial.
Tekanan lain datang dari melambatnya belanja konsumen, meningkatnya biaya operasional, serta ekspektasi perlambatan ekonomi. Kombinasi faktor-faktor tersebut mendorong perusahaan melakukan efisiensi agresif guna menjaga profitabilitas di tengah ketidakpastian global.
Sejumlah korporasi besar menjadi simbol pergeseran ini. Amazon, misalnya, mengumumkan PHK sekitar 16.000 karyawan tambahan pada akhir Januari sebagai bagian dari upaya merampingkan struktur manajemen dan mempercepat pengambilan keputusan. Langkah ini melanjutkan pemangkasan besar-besaran yang telah dilakukan perusahaan sejak 2025.
Perusahaan kimia Dow Inc juga mengumumkan rencana PHK sekitar 4.500 karyawan, sejalan dengan strategi peningkatan otomatisasi dan pemanfaatan AI untuk menekan biaya dan meningkatkan efisiensi operasional.
Di sektor teknologi, Meta mengurangi tenaga kerja di unit Reality Labs dan mengalihkan sumber daya dari proyek metaverse ke pengembangan produk berbasis kecerdasan buatan.
Pinterest, HP, dan sejumlah perusahaan teknologi lainnya juga mengambil langkah serupa dengan menyesuaikan komposisi tenaga kerja demi mendukung fokus AI jangka panjang.
Sektor logistik dan transportasi turut terdampak. UPS berencana memangkas hingga 30.000 karyawan tahun ini, disertai penutupan fasilitas dan penerapan otomatisasi jaringan secara luas.
American Airlines, Tyson Foods, dan Nike juga mengumumkan pengurangan tenaga kerja sebagai bagian dari efisiensi dan penyesuaian rantai pasok.
Perusahaan telekomunikasi seperti Verizon dan T-Mobile mempercepat penyederhanaan operasi, sementara institusi keuangan seperti Citigroup melanjutkan restrukturisasi besar-besaran yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir.
Pola ini menunjukkan bahwa gelombang PHK di AS bukan sekadar respons jangka pendek terhadap siklus ekonomi, melainkan bagian dari transformasi jangka panjang pasar tenaga kerja.
Otomasi dan AI tidak hanya menggantikan pekerjaan manual, tetapi juga peran profesional dan manajerial yang sebelumnya dianggap aman.
Dalam konteks ini, pasar tenaga kerja AS memasuki fase baru yang ditandai oleh meningkatnya kebutuhan keterampilan teknologi, fleksibilitas tenaga kerja, dan adaptasi cepat terhadap perubahan model bisnis.
Sementara efisiensi dan produktivitas menjadi prioritas perusahaan, tantangan sosial dan ekonomi akibat penyusutan lapangan kerja kerah putih diperkirakan akan menjadi isu utama kebijakan publik dalam beberapa tahun ke depan.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
