Dunia

Rusia sebut AS tak lagi siap jalankan proposal perdamaian Ukraina

Moskow menyebut sanksi energi dan tekanan terhadap mitra Rusia sebagai upaya dominasi ekonomi Amerika Serikat

Elena Teslova  | 09.02.2026 - Update : 09.02.2026
Rusia sebut AS tak lagi siap jalankan proposal perdamaian Ukraina Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

MOSKOW

Rusia menyatakan Amerika Serikat tidak lagi siap melaksanakan proposalnya sendiri terkait penyelesaian konflik Ukraina, meskipun gagasan tersebut sebelumnya disampaikan Washington kepada Moskow dalam pertemuan tingkat presiden pada Agustus 2025.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada Senin (9/2) mengatakan proposal tersebut disampaikan Amerika Serikat dalam pembicaraan di Anchorage, Alaska, dan sempat mendapat respons kesiapan dari pihak Rusia.

Namun, menurut Lavrov, setelah dialog dan kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan itu, Washington justru melanjutkan kebijakan tekanan dan pembatasan terhadap Rusia.

“Selain fakta bahwa mereka seolah mengajukan proposal terkait Ukraina dan kami siap, sekarang mereka justru tidak siap. Kami juga tidak melihat prospek cerah di bidang ekonomi,” kata Lavrov dalam wawancara dengan saluran BRICS TV.

Lavrov menuding Amerika Serikat memberlakukan sanksi baru terhadap perusahaan minyak Rusia, Rosneft dan Lukoil, setelah apa yang ia sebut sebagai pembicaraan konstruktif. Ia juga menuduh Washington melakukan “perang” terhadap kapal tanker Rusia di perairan internasional.

Ia menambahkan tekanan juga diberikan kepada negara mitra Rusia, termasuk India, agar tidak membeli energi Rusia, serupa dengan kebijakan sebelumnya terhadap Eropa yang menurutnya dipaksa membeli gas alam cair Amerika Serikat dengan harga sangat tinggi.

“Eropa telah lama dilarang membeli sumber energi Rusia. Dengan kata lain, Amerika Serikat telah mendeklarasikan tujuannya untuk mendominasi ekonomi,” ujar Lavrov.

Menurutnya, Washington secara sengaja berupaya mengendalikan rute energi global dan mencapai dominasi ekonomi dengan metode yang tidak dapat diterima Rusia.

Lavrov mengatakan Moskow kini mencari berbagai cara untuk melindungi kepentingannya, termasuk dengan mengembangkan sistem pembayaran alternatif dan memperluas kerja sama dengan negara-negara lain.

Ia juga menuding Amerika Serikat berupaya mengontrol hubungan dagang, investasi, serta kerja sama militer-teknis Rusia dengan mitra strategisnya, termasuk India dan negara-negara anggota BRICS lainnya.

Lavrov menegaskan Rusia tetap terbuka untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat, namun menilai Washington justru menciptakan hambatan buatan.

Terkait NATO, Uni Eropa, dan Organisasi Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE), Lavrov menyebut lembaga-lembaga tersebut sudah usang karena berfokus pada kepentingan kawasan Barat dan menganggap diri sebagai penguasa kawasan lain.

Ia menegaskan Rusia tidak menyerukan pembubaran Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, atau Organisasi Perdagangan Dunia, tetapi menuntut agar negara-negara BRICS memperoleh hak suara yang sebanding dengan bobot ekonomi nyata mereka.

Lavrov menilai BRICS dapat berperan sebagai kerangka untuk menyelaraskan rencana pembangunan global serta mendorong proses integrasi di berbagai benua.

Di bidang keamanan, Lavrov menegaskan Rusia akan memastikan keamanannya di tengah ancaman di Eropa, serta tidak akan mengizinkan penempatan senjata apa pun di wilayah Ukraina yang mengancam kepentingan keamanan Rusia.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın