ISTANBUL
Opsi militer yang akan diambil Amerika Serikat terhadap Iran dinilai masih terbatas di tengah potensi serangan dan meningkatnya ketegangan regional, seiring penempatan aset militer AS di kawasan yang dinilai menipis, menurut laporan The New York Times yang mengutip sejumlah pejabat AS.
Laporan tersebut menyebut Presiden AS Donald Trump telah menerima berbagai usulan dari Pentagon, termasuk opsi yang menyasar program nuklir Iran. Namun, pilihan yang tersedia dinilai menyempit karena postur kekuatan AS saat ini di kawasan.
Pada Juni lalu, AS melancarkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir utama Iran—Fordow, Natanz, dan Isfahan—dalam Operasi Midnight Hammer selama perang Iran-Israel yang berlangsung 12 hari. Kini, menurut para pejabat, pengerahan kekuatan AS di kawasan berbeda dengan periode tersebut.
Pentagon dilaporkan telah memindahkan kapal induk Gerald R. Ford dan sejumlah kapal perang lain dari Mediterania timur ke kawasan Karibia, sehingga mengurangi daya tembak angkatan laut AS di Timur Tengah. Meski demikian, Angkatan Laut AS masih mempertahankan tiga kapal perusak berkemampuan peluncuran rudal di kawasan, termasuk USS Roosevelt yang baru-baru ini memasuki Laut Merah.
Pejabat militer juga mengonfirmasi setidaknya satu kapal selam bersenjata rudal masih beroperasi di wilayah tersebut. Di luar opsi serangan langsung, skenario lain yang dipertimbangkan mencakup serangan siber atau langkah yang menargetkan aparat keamanan domestik Iran.
Menurut sumber yang dikutip, setiap operasi kemungkinan baru akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan dan berpotensi memicu respons “kuat” dari Iran. Seorang pejabat militer senior sebelumnya mengatakan para komandan meminta waktu tambahan untuk mengonsolidasikan posisi dan memperkuat pertahanan menghadapi kemungkinan serangan balasan.
Ketegangan meningkat di tengah kekhawatiran akan serangan AS, bersamaan dengan meluasnya aksi protes di Iran. Trump dilaporkan membatalkan pertemuan dengan pejabat Iran dan menyatakan dukungan bagi para demonstran.
Di sisi lain, Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik apa yang mereka sebut sebagai “kerusuhan” dan “terorisme”. Di tengah kekhawatiran serangan, Qatar juga mengonfirmasi sebagian personel telah meninggalkan Pangkalan Udara Al Udeid.
Para pejabat AS meningkatkan retorika terhadap Iran sejak protes merebak akhir bulan lalu akibat memburuknya kondisi ekonomi. Pada Selasa, Trump mengatakan kepada CBS News bahwa Washington akan mengambil “tindakan yang sangat keras” jika Iran mengeksekusi para demonstran.
Hingga kini, otoritas Iran belum merilis data resmi korban jiwa maupun jumlah penahanan. Human Rights Activists News Agency (HRANA), lembaga berbasis di AS, memperkirakan sedikitnya 2.500 orang tewas—termasuk demonstran dan aparat keamanan—dengan lebih dari 1.100 orang luka-luka, serta lebih dari 18.000 orang ditahan. Angka-angka tersebut belum diverifikasi secara independen dan berbeda dengan estimasi pihak lain.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
