Dunia, Ekonomi, Analisis

Krisis Selat Hormuz picu risiko krisis pangan dunia

Penutupan Selat Hormuz mengganggu hingga sepertiga rantai pasok pupuk global

Bahattin Gonultas  | 24.03.2026 - Update : 24.03.2026
Krisis Selat Hormuz picu risiko krisis pangan dunia

BERLIN

Krisis di Selat Hormuz mulai mengguncang rantai pasok pupuk global, memicu kekhawatiran serius terhadap produksi pangan dunia di tengah lonjakan harga energi dan terhentinya jalur distribusi utama.

Penutupan efektif jalur strategis tersebut, yang merupakan salah satu rute utama energi dan komoditas dunia, telah mengganggu pasar energi dan pupuk secara signifikan, sekaligus meningkatkan biaya produksi pertanian.

Konflik bersenjata di Timur Tengah yang dimulai sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran, memicu efek domino terhadap biaya input pertanian secara global.

Ketegangan meningkat seiring serangan balasan Iran berupa drone dan rudal ke Israel serta sejumlah negara seperti Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat, yang turut mengganggu pasar global dan sektor penerbangan.

Iran juga memperketat kontrol atas Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan energi dan komoditas menuju Asia.

Gangguan pada jalur distribusi pupuk dan energi di kawasan tersebut menghentikan perdagangan yang krusial bagi sektor pertanian global, bahkan memunculkan risiko krisis pangan yang dinilai lebih dalam dibandingkan dampak awal perang Rusia-Ukraina pada 2022.

Data menunjukkan hampir terhentinya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz telah mengganggu sekitar 38 persen pasokan pupuk berbasis nitrat global dan 20 persen pupuk berbasis fosfat.

Secara keseluruhan, krisis ini diperkirakan menyebabkan kontraksi hingga 33 persen dalam rantai pasok pupuk global, sementara ekspor urea kawasan yang mencapai 22 juta ton per tahun ikut terhenti.

Sekitar 46 persen pasokan urea dunia berasal dari kawasan Teluk, sehingga gangguan ekspor semakin memperburuk krisis.

Para ahli memperingatkan bahwa hambatan logistik yang terjadi berpotensi menyebabkan penurunan hasil panen global, terutama di tengah musim tanam di belahan bumi utara.

Lonjakan harga energi, khususnya gas alam yang menyumbang sekitar 80 persen biaya produksi pupuk nitrogen, turut memperparah kondisi. Harga urea melonjak sekitar 50 persen dari 482,5 dolar AS per ton pada akhir Februari menjadi 720 dolar AS pada pertengahan Maret.

Harga amonia di Timur Tengah juga meningkat sekitar 24 persen, mendekati 600 dolar AS per ton.

Sejumlah negara mulai merasakan dampaknya. India mengurangi alokasi gas untuk sektor pupuk guna menjaga keseimbangan pasar domestik, sementara China membatasi ekspor pupuk akibat volatilitas harga.

Negara-negara seperti Brasil menghadapi kekurangan pasokan fosfat, sedangkan Australia memperkirakan stok pupuknya akan habis pada pertengahan April.

Di sisi lain, sejumlah produsen pupuk besar di kawasan, termasuk di Qatar, Pakistan, dan Bangladesh, terpaksa menghentikan produksi akibat gangguan pasokan energi.

Lembaga pemeringkat Fitch juga menaikkan proyeksi harga pupuk pada 2026 sekitar 25 persen, dengan peringatan bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan dapat memperburuk kondisi.

Para ekonom menilai krisis ini berpotensi menjadi gangguan besar kedua terhadap produksi pupuk global setelah perang Rusia-Ukraina pada 2022.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın