Dunia, Ekonomi, Analisis

Ketegangan Timur Tengah dorong inflasi dan ganggu pasar global

Konflik sejak akhir Februari mengguncang sektor energi hingga transportasi di kawasan Teluk

MUhammad Abdullah Azzam  | 22.03.2026 - Update : 22.03.2026
Ketegangan Timur Tengah dorong inflasi dan ganggu pasar global

ANKARA

Konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari mulai menunjukkan dampak luas terhadap perekonomian kawasan Teluk, dengan gangguan besar di sektor energi, perdagangan, hingga transportasi yang memicu kekhawatiran global.

Konflik yang meluas di Timur Tengah tersebut mengguncang keseimbangan ekonomi regional dan meningkatkan ketidakpastian di berbagai sektor, mulai dari energi, perdagangan, pariwisata hingga logistik.

Dampaknya juga mulai terasa secara global, terutama melalui tekanan terhadap inflasi akibat lonjakan harga energi dan meningkatnya risiko geopolitik.

Kenaikan harga minyak yang dipicu eskalasi konflik serta aksi balasan Iran memberikan tekanan besar pada pasar energi global.

Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang hampir terhenti memperparah kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia dan rantai distribusi energi.

Kenaikan harga energi dinilai mendorong inflasi melalui tiga jalur utama, yakni peningkatan langsung biaya energi, kenaikan harga barang akibat beban biaya produksi, serta memburuknya ekspektasi inflasi karena ketidakpastian.

Di sisi lain, meningkatnya ketegangan juga mendorong kenaikan premi risiko negara-negara Teluk dan memicu volatilitas di pasar keuangan.

Bursa saham di kawasan tersebut bergerak bervariasi, dengan penurunan terbesar terjadi di Uni Emirat Arab. Sementara itu, bursa Oman, Irak, dan Arab Saudi mencatat kenaikan, sedangkan pasar di Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Kuwait mengalami penurunan.

Penutupan Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap ekspor energi, dengan penurunan lebih dari 60 persen ekspor minyak dari negara-negara Teluk sejak konflik dimulai. Penurunan sekitar 15 juta barel ini disebut sebagai salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern.

Kerugian pendapatan minyak negara-negara Teluk dalam dua pekan terakhir diperkirakan mencapai 25 miliar dolar AS, dan angka tersebut berpotensi meningkat jika pendapatan dari LNG dan produk petrokimia turut diperhitungkan.

Sektor pariwisata dan penerbangan juga terdampak berat, dengan penutupan wilayah udara dan meningkatnya risiko keamanan menyebabkan gangguan besar dalam penerbangan global.

Lebih dari 3.400 penerbangan dibatalkan dalam 24 jam pertama konflik, dan pembatalan serta penundaan terus berlanjut.

Sejumlah maskapai penerbangan Eropa mengurangi frekuensi penerbangan ke Timur Tengah, bahkan beberapa di antaranya menghentikan operasional rute secara keseluruhan.

Di sektor properti, penjualan perumahan di Dubai dilaporkan turun sekitar 25 persen sejak konflik meluas. Penurunan ini mencerminkan dampak langsung ketidakpastian geopolitik terhadap minat investasi, termasuk dari investor asing.

Indeks properti Dubai tercatat turun sekitar 26 persen, sementara indeks properti Qatar melemah sekitar 7 persen. Indeks pasar keuangan Dubai juga mengalami penurunan sekitar 15 persen sejak konflik dimulai.

Negara-negara Teluk yang sangat bergantung pada ekspor energi ke Asia turut menghadapi risiko besar akibat penutupan Selat Hormuz. Selain menggerus pendapatan, kondisi ini juga memberi tekanan pada model ekonomi berbasis tenaga kerja asing di kawasan.

Pengamat ekonomi dari Pusat Riset Kemitraan Publik-Swasta, Eyup Vural Aydin, menyatakan bahwa konflik ini telah merusak iklim investasi di kawasan.

Ia memperkirakan minat investor internasional terhadap negara-negara Teluk akan menurun dalam periode mendatang.

Menurutnya, investor global cenderung memilih kawasan yang stabil dan memiliki kepastian jangka panjang, sehingga meningkatnya ketidakpastian akibat konflik akan berdampak signifikan, terutama bagi negara seperti Uni Emirat Arab yang bergantung pada arus modal internasional.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.