PBB sebut Gaza dipenuhi lebih 60 juta ton puing, pembersihan bisa lebih dari 7 tahun
Rekonstruksi Palestina diperkirakan membutuhkan dana lebih dari USD53 miliar
NEW YORK
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan lebih dari 60 juta ton puing menumpuk di Jalur Gaza akibat kehancuran masif selama konflik, dengan proses pembersihan yang diperkirakan memakan waktu lebih dari tujuh tahun.
Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Kantor PBB untuk Layanan Proyek (UNOPS) Jorge Moreira da Silva dalam pernyataan tertulis setelah melakukan kunjungan ke Gaza.
“Saya baru kembali dari Gaza, di mana krisis kemanusiaan semakin dalam. Warga berada dalam kondisi kelelahan, trauma, dan keputusasaan,” kata Silva.
Ia menekankan bahwa kondisi musim dingin yang keras dan hujan lebat semakin memperparah penderitaan warga di wilayah tersebut.
Menurut Silva, sekitar dua juta penduduk Gaza membutuhkan perlindungan darurat, pasokan bahan bakar, serta pembersihan puing secara mendesak agar layanan dasar dapat kembali berjalan.
“Di Gaza terdapat lebih dari 60 juta ton puing, setara dengan muatan sekitar 3.000 kapal kontainer. Saat ini, rata-rata setiap warga Gaza dikelilingi sekitar 30 ton puing. Membersihkan seluruh puing ini kemungkinan akan memakan waktu lebih dari tujuh tahun,” ujarnya.
Silva menggambarkan tingkat kehancuran di Gaza sebagai sesuatu yang “luar biasa”. Ia menyebut rumah, sekolah, klinik, jalan, serta jaringan air dan listrik hancur total. Kondisi ini, kata dia, berdampak serius terhadap anak-anak yang mengalami kehilangan dan trauma berkepanjangan.
“Anak-anak yang telah terputus dari pendidikan selama tiga tahun menghadapi risiko menjadi generasi yang hilang,” katanya.
UNOPS memperkirakan kebutuhan dana untuk pemulihan awal dan rekonstruksi di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Gaza dan Tepi Barat, mencapai 53,2 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 miliar dolar AS dibutuhkan secara mendesak dalam tiga tahun pertama.
Dalam sesi tanya jawab dengan wartawan melalui konferensi video dari Yerusalem ke Markas Besar PBB di New York, Silva mengatakan lebih dari 80 persen infrastruktur di Gaza telah hancur.
“Warga hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi. Tenda-tenda tempat tinggal tidak mampu melindungi mereka dari cuaca ekstrem,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa bangunan yang masih berdiri perlu segera diperiksa kelayakannya agar dapat digunakan sebagai tempat tinggal sementara. Namun, langkah tersebut membutuhkan pembersihan amunisi yang belum meledak serta dukungan alat berat dan kapasitas teknis yang memadai.
Silva juga memperingatkan bahwa puing-puing di Gaza mengandung bahan berbahaya seperti asbes, serta kemungkinan adanya sisa-sisa jasad manusia.
Menjawab pertanyaan terkait hambatan masuknya bantuan, terutama perlengkapan musim dingin, Silva menegaskan perlunya membuka seluruh jalur masuk ke Gaza, termasuk melalui perbatasan Yordania, serta memastikan seluruh jalan di dalam Gaza dapat difungsikan.
Ia menyebut UNOPS memiliki 10 gudang bantuan kemanusiaan, namun distribusinya ke Gaza masih terhambat. “Di gudang-gudang itu terdapat bantuan setara dengan muatan 10 ribu truk, dan sebagian besar barang berisiko kedaluwarsa dalam beberapa pekan,” kata Silva.
Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
