18 Maret 2018•Update: 19 Maret 2018
Sadik Kedir Abdu
ANKARA
Kelompok Save the Children memperingatkan adanya wabah penyakit di kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh saat musim hujan terus berlanjut.
Dalam pernyataannya pada Jumat, kelompok hak asasi anak internasional ini mengatakan wabah ini berasal dari kurangnya sarana kakus yang layak.
"Potensi darurat kesehatan dan mematikan sangat nyata. Seperempat dari seluruh toilet di kamp-kamp tersebut diperkirakan akan rusak akibat musim hujan," kata Myriam Burger, penasihat kesehatan organisasi tersebut di kota Cox's Bazar, di mana ribuan pengungsi tinggal di kamp
PBB telah mengajukan dana sebesar $ 950 juta untuk memenuhi kebutuhan warga Rohingya dan masyarakat sekitar, pernyataan tersebut menambahkan.
Secara terpisah, UNICEF mengatakan sedikitnya 50.000 toilet dibutuhkan para pengungsi.
Sejak 25 Agustus 2017, lebih dari 750.000 pengungsi, kebanyakan anak-anak, dan wanita telah meninggalkan Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan kekerasan terhadap komunitas Muslim minoritas, menurut Amnesty International.
Para pengungsi tersebut melarikan diri dari sebuah operasi militer di mana pasukan keamanan dan kelompok Buddha membunuh pria, wanita dan anak-anak, serta menjarah rumah dan membakar desa Rohingya.
Setidaknya 9.000 Rohingya tewas di Rakhine antara 25 Agustus dan 24 September, menurut lembaga Dokter Lintas Batas (MSF).
Dalam sebuah laporan yang diterbitkan Desember lalu, kelompok kemanusiaan tersebut mengatakan bahwa 71,7 persen kematian atau setara dengan 6.700 warga Rohingya disebabkan oleh kekerasan. Mereka termasuk 730 anak di bawah usia 5 tahun.
PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak-anak - pemukulan brutal dan penghilangan oleh petugas keamanan.
Dalam sebuah laporan, penyidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut merupakan kejahatan kemanusiaan.