25 Februari 2018•Update: 26 Februari 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Dewan Keamanan (DK) PBB pada Sabtu menyetujui resolusi gencatan senjata di Suriah selama 30 hari.
"Semua pihak [harus] menghentikan permusuhan tanpa lagi ditunda dan berkomitmen untuk memastikan jeda kemanusiaan selama setidaknya 30 hari berturut-turut di seluruh Suriah untuk memungkinkan bantuan kemanusiaan dan layanan kemanusiaan berjalan aman, tanpa hambatan, dan berkelanjutan serta evakuasi medis bagi korban luka parah sesuai hukum internasional yang berlaku," bunyi resolusi tersebut.
DK PBB menyerukan evakuasi medis terhadap 700 warga, terutama di wilayah Ghouta Timur.
DK PBB juga menuntut gencatan senjata di sejumlah daerah seperti Yarmouk, Al-Fu'ah dan Kafriya.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan pelaksanaan resolusi tersebut harus dilakukan sesegera mungkin.
"Saya menyambut baik resolusi gencatan senjata di Suriah oleh Dewan Keamanan PBB dan meminta semua pihak mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan dengan segera," kata Guterres di akun media sosialnya.
Guterres meminta semua pihak mematuhi undang-undang internasional serta melindungi warga dan infrastruktur sipil.
Dia juga menekankan kewajiban ini tidak boleh diabaikan dalam perang melawan terorisme.
Resolusi tersebut, yang disiapkan oleh Swedia dan Kuwait, disetujui setelah beberapa kali mengalami penundaan, karena anggota DK PBB berusaha meyakinkan Rusia sebagai sekutua kuat rezim Assad.
Perwakilan Tetap Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia mengklaim bahwa "ribuan teroris" tetap berada di Ghouta Timur.
Ghouta Timur merupakan rumah bagi 400.000 penduduk, yang menderita di bawah kepungan rezim selama lima tahun terakhir.
Dalam delapan bulan terakhir, rezim Suriah telah mengintensifkan pengepungan sehingga hampir tidak mungkin memasukkan makanan dan obat-obatan ke wilayah tersebut.
Hingga kini, ribuan pasien membutuhkan perawatan.
Kelompok pertahanan sipil White Helmets melaporkan serangan rezim di Ghouta Timur telah menewaskan 389 orang dalam enam hari terakhir.
Suriah telah dilanda konflik sejak perang sipil meletus pada Maret 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menyerang aksi demonstrasi kelompok pro-demokrasi dengan brutal.
Meskipun pejabat PBB mengatakan ratusan ribu jiwa tewas akibat perang sipil tersebut, pejabat rezim Suriah mengatakan jumlah korban hanya sekitar 10 ribu jiwa