17 Juli 2017•Update: 20 Juli 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Wakil Ketua Komisi I, TB. Hasanuddin, pada Senin (17/7) mengatakan, jumlah warga negara Indonesia atau WNI yang bergabung dengan kelompok teroris ISIS atau Daesh di Suriah kemungkinan akan menurun.
“Saya kira untuk bergabung dengan Daesh sudah tidak lagi, tidak akan sebesar kemarin. Kan pertempuran terakhir sudah dihancurkan. Ketika Daesh masih menguasai daerah-daerah itu, maka orang terpropaganda dan datang ke sana. Tapi sekarang yang di sana saja mau balik kan,” katanya saat ditemui Anadolu Agency di kantornya di gedung DPR di Jakarta.
“Jadi kalau berduyun-duyun keluar lagi, prediksi saya tidak akan karena di sana perang sudah mau selesai. Perang mau selesai, mau apa ke sana?”
Menyoal seberapa efektif program deradikalisasi yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia kepada WNI yang pernah terlibat dalam terorisme, Hasanuddin mengatakan bahwa keberhasilan program tersebut bukan sesuatu yang bisa diukur secara instan.
“Ada yang efektif, ada yang kurang efektif. Harus ada kajian-kajian. Namanya program deradikalisasi itu tidak bisa hanya dilihat dari sekarang keluar duit, sekarang dilaksanakan, hasilnya minggu depan terlihat. Gak bisa. Perlu bulanan, tahunan, bisa dilihatnya sekian tahun ke depan,” ungkapnya.
Pemerintah Turki baru-baru ini mengatakan bahwa pihaknya telah menangkap 435 WNI yang tergabung dalam Daesh, menjadikan Indonesia sebagai negara kedua terkait jumlah militan Daesh terbanyak yang ditangkap di Turki. Peringkat pertama diduduki oleh Rusia sementara peringkat ketiga ialah Tajikistan diikuti oleh Irak dan Prancis.
Diperkirakan sejak tahun 2015, otoritas Turki telah menangkap 4.957 militan asing di negara tersebut yang bergabung dalam kelompok teror ini.