17 Juli 2017•Update: 18 Juli 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Maraknya warga negara Indonesia yang ingin bergabung ke Daesh melalui perbatasan di Turki menjadi salah satu topik pembicaraan yang didiskusikan oleh Presiden Joko Widodo ketika mengunjungi Turki, beberapa waktu lalu.
Turki dan Suriah memiliki perbatasan langsung di darat dengan panjang wilayah perbatasan sekitar 900 km. Pihak Turki juga sudah menyadari banyak WNI yang menjadikan Turki sebagai persinggahan sebelum memasuki Suriah untuk bergabung dengan prajurit Daesh.
Duta Besar Turki untuk Indonesia, Sander Gurbuz, mengatakan banyaknya WNI yang pergi ke Suriah melalui Turki dan kemudian kembali lagi ke Indonesia merupakan isu besar, khususnya bagi Indonesia.
“Dan kita dengan sangat senang siap bekerja sama dengan otoritas Indonesia terkait kemungkinan ancaman yang ditimbulkan untuk Indonesia ketika mereka kembali lagi ke Indonesia,” terangnya.
Selain itu, Gurbuz juga menyatakan bahwa sebagai negara tetangga dari Suriah, Presiden Erdogan mengatakan Turki tidak akan menutup pintu gerbang bagi para pengungsi Suriah untuk menyelamatkan diri ke Turki.
“Ada lebih dari 3 juta pengungsi Suriah dan ratusan ribu anak-anak Suriah sekolah di Turki. Sebagai bentuk solidarisme kemanusiaan, hal tersebut bukan masalah bagi Turki. Tidak seperti kebanyakan negara Eropa yang sangat heboh ketika menampung seratus atau dua ratus saja pengungsi Suriah,” lanjut Gurbuz.
Turki juga tidak keberatan untuk mengeluarkan uang sekitar USD 15 miliar selama hampir lima tahun untuk membantu pengungsi Suriah. Hal tersebut ditempuh Turki berdasarkan rasa kemanusiaan dan solidarisme terkait konflik yang membuat jutaan warga Suriah menderita.