Handan Kazanci
29 Desember 2021•Update: 30 Desember 2021
ISTANBUL
Lembaga anak dunia Save the Children pada Selasa mengonfirmasi bahwa dua anggota stafnya termasuk di antara 35 orang yang tewas dalam serangan yang dilakukan oleh militer Myanmar.
“Dengan sangat sedih kami mengonfirmasi hari ini bahwa dua anggota staf Save the Children termasuk di antara sedikitnya 35 orang (termasuk wanita dan anak-anak) yang tewas pada Jumat 24 Desember dalam serangan militer Myanmar di Negara Bagian Kayah, di timur negara itu,” kata Lembaga itu dalam sebuah pernyataan.
“Kedua staf itu sama-sama bapak baru yang semangat mendidik anak,” imbuh mereka.
“Salah satunya berusia 32 tahun, dengan seorang putra berusia 10 bulan, dan telah bekerja di Save the Children selama dua tahun, melatih para guru. Yang lainnya, 28, dengan putrinya berusia tiga bulan, bergabung dengan lembaga enam tahun lalu. Mereka tidak diidentifikasi karena alasan keamanan,” kata pernyataan itu.
Mereka sedang dalam perjalanan kembali ke kantor mereka setelah bekerja pada respon kemanusiaan di dekatnya ketika mereka diserang.
"Militer memaksa orang-orang keluar dari mobil mereka, menangkap, membunuh dan membakar mayat," lanjut pernyataan tersebut.
Mengutip Chief Executive Save the Children Inger Ashing, pernyataan itu mengatakan, “Berita ini benar-benar mengerikan. Kekerasan terhadap warga sipil tak berdosa termasuk pekerja kemanusiaan tidak dapat ditoleransi, dan serangan tidak masuk akal ini merupakan pelanggaran Hukum Humaniter Internasional.”
“Kami terguncang oleh kekerasan yang dilakukan terhadap warga sipil dan staf kami, yang berdedikasi kemanusiaan, mendukung jutaan anak yang membutuhkan di seluruh Myanmar,” tambah Ashing.
Save the Children menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk bersidang "sesegera mungkin agar menetapkan langkah-langkah yang akan mereka ambil untuk meminta pertanggungjawaban.
"Negara-negara anggota harus memberlakukan embargo senjata, termasuk fokus pada pembatasan serangan udara yang terlihat beberapa hari terakhir,” ujar Ashing.
Save the Children telah bekerja di Myanmar sejak 1995, melalui lebih dari 50 mitra dan 900 staf di seluruh negeri dan sekarang telah menghentikan sementara operasinya di Kayah, Chin, dan sebagian Magway dan Kayin setelah insiden itu, tambah pernyataan itu.
Pada Minggu, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat Martin Griffiths mengatakan, “Laporan yang dapat dipercaya mengatakan setidaknya 35 orang, termasuk setidaknya satu anak, dipaksa keluar dari kendaraan mereka, dibunuh dan dibakar.
“Saya mengutuk insiden menyedihkan ini dan semua serangan terhadap warga sipil di seluruh negeri, yang dilarang berdasarkan hukum humaniter internasional,” tekan Griffiths.
Militer Myanmar melancarkan kudeta militer pada 1 Februari dan memenjarakan kepemimpinan Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang dipimpin oleh peraih Nobel Aung San Suu Kyi, yang awal bulan ini dijatuhi hukuman empat tahun penjara.
Lebih dari 1.000 orang telah tewas sementara lebih dari 5.400 lainnya telah ditangkap oleh pasukan junta, banyak dari mereka telah dibebaskan.