Nıcky Aulıa Wıdadıo
11 Februari 2020•Update: 11 Februari 2020
JAKARTA
Kementerian Pertanian mengatakan tidak akan memusnahkan babi secara massal dalam menangani wabah demam babi afrika atau african swine fever (ASF).
Isu pemusnahan dibantah setelah memicu sejumlah peternak yang menamai diri sebagai Gerakan Save Babi menggelar unjuk rasa di depan DPRD Sumatra Utara pada Senin.
Pengunjuk rasa khawatir pemusnahan babi merugikan para peternak secara ekonomi. Isu ini muncul setelah wabah ASF dan hog cholera menyebabkan ribuan ekor babi mati sejak September 2019.
“Kami menegaskan bahwa strategi pengendalian ASF di Sumatera Utara tidak menggunakan strategi pemusnahan massal babi,” kata Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita melalui keterangan tertulis, Selasa.
Penyakit ASF tengah mewabah di berbagai negara termasuk China, Mongolia, Vietnam, Kamboja, Korea Selatan, Laos, Myanmar, Filippina, Korea Utara, dan Timor Leste.
ASF merupakan virus menular dan mematikan pada babi, namum tidak menular kepada manusia. Sejauh ini belum ditemukan vaksin terkait ASF.
Pemerintah, lanjut dia, mengutamakan pencegahan lewat biosekuriti, disinfeksi di kandang dan alat peternakan, serta disposal bangkai babi yang mati.
Kementerian Pertanian akan memfasilitasi penyediaan kembali babi yang bebas dari penyakit untuk membantu masyarakat beternak kembali.
Ketut mengatakan babi-babi tersebut dipastikan berasal dari zona yang status kesehatan hewannya baik.
"Hal tersebut untuk mendukung masyarakat dapat kembali beternak. Pemerintah juga akan berikan bimbingan teknis untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan bagi peternak terkait tata cara beternak yang baik dan benar," ujar dia.