Nıcky Aulıa Wıdadıo
07 Februari 2020•Update: 09 Februari 2020
JAKARTA
Kementerian Pertanian mengatakan sebanyak 886 ekor babi mati di Bali sejak beberapa bulan lalu hingga akhir Januari 2020.
Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fajar Sumping mengatakan ratusan babi tersebut diduga mati karena terkena demam babi afrika (African Swine Fever/ASF).
ASF merupakan virus menular dan mematikan pada babi, namum tidak menular kepada manusia.
“Sejauh ini masih suspect, harus dibuktikan dari hasil investigasi, pengujian dan diagnosa laboratorium,” kata Fajar kepada Anadolu Agency, Jumat.
Menurut dia, berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah penularan penyakit seperti disposal bangkai babi yang mati, disinfeksi di kandang dan alat peternakan.
Kementerian Pertanian juga meminta masyarakat untuk tidak memindahkan babi dari daerah yang ditemukan kasus kematian, serta tidak memperjual belikan babi yang sakit.
“Sekarang laju kasus kematian sudah menurun, beberapa hari ini sudah tidak ada kasus kematian,” ujar dia.
Kasus kematian ratusan babi ini, menurut Fajar, sempat membuat masyarakat khawatir mengonsumsi daging babi sehingga berdampak secara ekonomi terhadap peternak di Bali.
“Kami sosialisasikan (kepada masyarakat) bahwa daging babi aman dikonsumsi. ASF tidak menular kepada manusia, aman,” ujar Fajar.
Pada September hingga November 2019 lalu, ribuan babi di Sumatra Utara juga mati akibat ASF. Bangkai babi yang mati sempat mencemari sungai di sejumlah daerah.
ASF, kata Fajar, saat ini perlu diwaspadai karena tengah mewabah secara global dan vaksinnya belum ditemukan.
Sejumlah negara tetangga juga sudah memiliki kasus ASF seperti Filipina, Timor Leste, Vietnam, Myanmar, Laos, dan lain-lain.