Muhammad Latief
JAKARTA
Myanmar mengumumkan telah menemukan virus demam babi Afrika untuk pertama kali, pada Rabu.
Menurut Departemen Pertanian, Peternakan dan Pengairan virus tersebut meskipun tidak menular ke manusia namun sangat merusak ternak babi dan dapat membunuh hingga 90 persen hewan yang terinfeksi.
Hingga kini belum ditemukan vaksin maupun obat untuk penyakit ini.
Pengumuman ini muncul setelah pemerintah menyelidiki kematian 14 babi yang mencurigakan di Desa Wam Nwe, Kota Mine Lar, Negara Bagian Shan, dari 1 hingga 6 Agustus.
Sampel jaringan dari babi yang mati diambil dan diperiksa di laboratorium di Yangon dan Mandalay menggunakan tes biologi molekuler dan mendeteksi gen virus Afrika swine fever.
“China telah mengalami wabah demam babi Afrika sejak tahun lalu, tetapi ini adalah pertama kalinya virus terdeteksi di Myanmar, ”kata U Tun Lwin, wakil sekretaris tetap Pertanian, Peternakan, dan Irigasi seperti dikutip dari Myanmar Times.
Majalah Economist melaporkan awal bulan ini bahwa penyakit ini telah menyebar ke setiap provinsi di China sejak pertama kali terdeteksi pada Agustus tahun lalu dan diperkirakan akan menghancurkan populasi babi di negara itu.
Beberapa ahli memproyeksikan bahwa lebih dari 200 juta hewan mungkin hilang akibat penyakit yang sangat menular atau pemusnahan pada akhir tahun ini.
Penyakit ini juga telah menyebar ke bagian lain di Asia Tenggara, termasuk Kamboja, Laos, Thailand dan Vietnam.
Wabah penyakit ini juga dilaporkan terjadi di beberapa bagian Eropa awal bulan ini.
Departemen Pembibitan dan Hewan Ternak mengatakan bahwa mereka bekerja dengan organisasi lokal dalam melakukan tindakan pencegahan, pengendalian, dan pelaporan menurut prosedur Organisasi Kesehatan Hewan Dunia.
Kementerian akan segera mengumumkan informasi yang diperlukan untuk diikuti oleh peternak babi, U Tun Lwin menambahkan.
news_share_descriptionsubscription_contact
