Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pengamat ekonomi menyebut saat ini pemerintah dan perbankan seakan berebut dana masyarakat untuk mendapatkan likuiditas yang mencukupi.
Pengamat ekonomi Indef Aviliani mengatakan bank BUKU III dan BUKU IV saat ini sedang mengalami kesulitan likuiditas untuk memberikan pembiayaan.
Aviliani mengatakan Loan to Deposit Ratio (LDR) pada bank BUKU III saat ini sekitar 113 persen sementara pada bank BUKU IV sekitar 97 persen sehingga menjadi hambatan dalam pembiayaan.
Sementara Aviliani menambahkan pada bank BUKU I dan II tidak terlalu berpengaruh karena ekspansi yang dilakukan perbankan pada kategori tersebut tergantung pada modal yang disuntikkan oleh pemiliknya.
Dia juga mengatakan tingginya level LDR pada perbankan BUKU III dan IV ditambah dengan pemerintah yang akan mengeluarkan surat utang dengan bunga lebih besar daripada bunga bank.
“Ini membuat adanya shifting dana nasabah bank dari deposito ke surat utang negara,” jelas dia dalam diskusi di Jakarta, Rabu.
Aviliani menjelaskan bank juga semakin sulit mencari dana masyarakat khususnya dari generasi milenial karena mereka lebih memilih menempatkan uangnya pada reksadana dan fintech untuk mendapatkan yield lebih besar.
Karena tingginya level LDR dan sulitnya mendapatkan dana masyarakat, Aviliani mengatakan perbankan harus memperhatikan penyaluran kreditnya ke beberapa sektor.
Aviliani mengatakan pada sektor pertambangan bisa berpotensi menimbulkan kredit macet setelah tidak boleh lagi melakukan ekspor bahan mentah dalam lima tahun ke depan.
Kemudian pada sektor kesehatan, Aviliani mengatakan ada kecenderungan monopoli yang dilakukan rumah sakit besar terkait BPJS karena memiliki cashflow yang kuat meskipun pembayaran kewajiban BPJS ke rumah sakit sering terlambat.
“Keterlambatan pembayaran kewajiban BPJS ke rumah sakit akan membuat kredit macet di perbankan dari sektor kesehatan yang berasal dari rumah sakit yang cashflow-nya tidak kuat,” urai dia.
Dia melanjutkan perbankan juga harus selektif menyalurkan kredit pada sektor makanan dan minuman serta pelaku usaha sektor ritel, meskipun sektor ritel masih tumbuh dua digit.
Aviliani menambahkan perbankan perlu menengok sektor pariwisata untuk berekspansi karena pariwisata bukan lagi menjadi kebutuhan sekunder bagi masyarakat Indonesia.
“Pariwisata ini termasuk juga akomodasi, transportasi, dan lainnya karena ini bisnis baru yang harus dilirik perbankan,” tambah Aviliani.
Aviliani menegaskan dalam 10 tahun ke depan perbankan dituntut mencari sumber pendapatan baru, tidak hanya mengandalkan dari kredit saja.
Sulit ekspansi
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengakui perbankan tidak bisa berekspansi lagi. Likuiditas memang menjadi perhatian terlebih lagi level LDR bank BUKU IV sudah mencapai 93 persen.
Jahja menjelaskan pada dasarnya para pelaku usaha baik itu ritel, tekstil, CPO, dan lainnya berdasarkan riset yang dilakukannya merasa optimistis dengan pertumbuhan industri 5 hingga 10 persen.
“Bahkan industri makanan dan minuman memperkirakan pertumbuhan hampir 25 persen,” jelas dia.
Akan tetapi, Jahja mengatakan optimisme pengusaha sangat berkaitan dengan ketersediaan likuiditas.
“Dengan LDR 93 persen kita khawatirkan ketersediaan likuiditas yang saat ini terkuras, ditambah timbul persaingan dengan pemerintah,” ungkap Jahja.
Dia mengatakan perbankan mengaku kalah dengan imbal hasil dari obligasi pemerintah seperti Saving Bond Ritel (SBR) yang memiliki yield 8,15 persen dengan pajak lebih rendah.
“Ini suatu bentuk persaingan (meraih likuiditas),” tegas Jahja.
Dia menjelaskan BCA juga merupakan salah satu agen pemasaran SBR dan setiap penjualan Rp2 triliun, 30 persen di antaranya berasal dari dana BCA.
“Ini kan jadi kanibal. Artinya kalau kita jualan government bond, kita juga harus cari replacing-nya,” tambah dia.
Kekhawatiran perbankan menurut dia, lebih pada penyediaan dana di internal. Sementara untuk faktor eksternal, Jahja merasa optimis khususnya terkait dengan estimasi kenaikan suku bunga The Fed yang diperkirakan maksimal hanya 0,25 persen.
Cari jalan keluar tekan LDR
Ketua Komisi XI DPR RI Melchias Marcus Mekeng mengatakan perlu dibahas jalan keluar untuk bisa menekan level LDR
Dia menjabarkan nilai aset perbankan saat ini Rp7.877 triliun naik 9,08 yoy dengan total kredit Rp5.160 triliun yang tumbuh 12,05 persen.
Sementara jumlah dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp5.573 triliun tumbuh 7,19 persen dengan NPL 2,67 persen dan LDR 93,19 persen
“Ini perlu dicari jalan keluar agar LDR turun dengan cara menambah likuiditas dan melepas portofolio perbankan untuk memperkuat struktur permodalannya,” jelas dia.
Untuk itu, Mekeng berharap antara pemerintah dan perbankan bisa duduk bersama untuk saling mencari likuiditas DPK.
“Sekarang ada shifting deposito ke surat berharga negara. Perlu ada jalan keluar biar jangan jeruk makan jeruk,” tegas Mekeng.
Dia menilai aturan Kementerian Keuangan yang membuat banyak dana pensiun masuk ke obligasi pemerintah, perlu dilonggarkan agar bisa masuk ke instrumen lainnya dan memperkuat dana perbankan.
news_share_descriptionsubscription_contact

