Iqbal Musyaffa
15 September 2020•Update: 15 September 2020
JAKARTA
Pemerintah mengatakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga maupun seluruh tahun ada di batas bawah dari proyeksi seiring dengan kembali diterapkannya PSBB di Jakarta.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan kontribusi Jakarta terhadap pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 17,7 persen, pada kuartal kedua ekonomi Jakarta terkontraksi 8,2 persen.
“Situasi seharusnya bertahap membaik. Saya harapkan tidak ada penurunan di September sehingga kontraksi Jakarta akan lebih rendah dari kuartal kedua,” jelas dia dalam diskusi virtual, Selasa.
Menteri Sri Mulyani mengatakan estimasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga belum berubah, masih di kisaran 0 persen hingga minus 2,1 persen.
Sementara pada kuartal keempat 0,4 hingga 3,1 persen dan seluruh tahun 0,2 persen hingga minus 1,1 persen.
“Pada dasarnya, kita sedang melakukan monitoring terhadap data yang berhubungan dengan pergerakan PSBB di Jakarta,” ujar Menteri Sri Mulyani.
Namun, dia mengatakan PSBB di Jakarta kali ini tidak seperti PSBB pada Maret dan April lalu yang menghentikan seluruh kegiatan masyarakat.
“PSBB ini sifatnya pembatasan di perkantoran yang ditengarai menjadi pusat penularan Covid-19,” jelas dia.
Meski begitu, pegawai pemerintah masih tetap bekerja di kantor dengan kapasitas 25 persen, sehingga dampak pada pertumbuhan ekonominya akan menurun.
Menurut Menteri Sri Mulyani, bila PSBB pada Maret lalu membuat penurunan ekonomi hampir mencapai 2 persen, maka kali ini diperkirakan akan memberikan dampak kontraksi lebih rendah dari 2,1 persen pada kuartal ketiga.
“Perkiraan terbaru akan kita lihat berdasarkan assessment terhadap pergerakan dalam dua pekan ini, dan kita harap tidak terlalu jauh penurunannya,” imbuh Menteri Sri Mulyani.
Dia mengatakan semua proyeksi tersebut tergantung pada kemampuan mengelola dan mencegah kenaikan kasus Covid-19.