Kemenangan Spanyol pada final Piala Dunia FIFA 2026 disambut perayaan di berbagai wilayah Palestina. Ribuan warga turun ke jalan, mengibarkan bendera Spanyol dan Palestina sebagai bentuk apresiasi terhadap dukungan Madrid terhadap perjuangan rakyat Palestina di tengah perang di Gaza.
Ratusan warga Palestina berkumpul di kafe-kafe di berbagai wilayah Jalur Gaza yang dilanda perang untuk menyaksikan pertandingan melalui layar lebar dalam suasana penuh antusias.
Di tengah pemadaman listrik dan kondisi yang membuat warga sulit menonton pertandingan secara individu di rumah maupun tenda pengungsian, acara nonton bersama menjadi satu-satunya kesempatan bagi banyak warga untuk menikmati laga final. Setelah peluit panjang dibunyikan, suasana berubah menjadi perayaan spontan.
Spanyol memastikan gelar juara dunia kedua setelah mengalahkan Argentina yang dipimpin Lionel Messi dengan skor 1-0 melalui babak perpanjangan waktu. Trofi juara diserahkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam pesannya kepada Raja Spanyol Felipe VI, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyebut kemenangan tersebut sebagai "prestasi olahraga dunia yang besar" yang diraih melalui kerja keras dan ketekunan. Abbas juga mengirimkan ucapan selamat kepada Perdana Menteri Pedro Sanchez.
Hamas turut menyampaikan ucapan selamat atas keberhasilan Spanyol menjuarai Piala Dunia.
"Kami mengucapkan selamat kepada Spanyol atas kemenangan yang pantas diraih di Piala Dunia, dan kami juga mengucapkan selamat kepada Palestina serta semua pihak yang turut bergembira," kata pejabat Hamas Basem Naim, sebagaimana dikutip media Palestina.
Spanyol selama ini dikenal menunjukkan dukungan resmi maupun publik terhadap rakyat Palestina, terutama terkait hak mereka untuk mendirikan negara merdeka sesuai resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Di Argentina, sikap terhadap Palestina masih terbelah. Presiden Javier Milei menyatakan dukungan penuh kepada Israel, sementara sebagian besar masyarakat Argentina tetap menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Pada 1948, Israel didirikan di wilayah yang diduduki kelompok bersenjata Zionis yang, menurut naskah sumber, melakukan pembantaian dan menyebabkan sedikitnya 750.000 warga Palestina mengungsi. Israel kemudian menduduki wilayah Palestina lainnya dan hingga kini menolak mundur serta pembentukan negara Palestina sebagaimana diatur dalam resolusi PBB.
Perayaan di Gaza
Di media sosial, para aktivis membagikan video yang memperlihatkan warga Palestina merayakan kemenangan Spanyol.
Bendera Spanyol tampak dikibarkan di berbagai lokasi, sementara anak-anak dan pemuda terlihat bertepuk tangan, bersorak, dan meneriakkan dukungan kepada Spanyol.
"Gaza merayakan kemenangan Spanyol karena sikap tidak pernah dilupakan, dan hati selalu berpihak kepada mereka yang berdiri bersama Gaza," tulis pengguna X bernama Umm Yousef, disertai video perayaan tersebut.
Perayaan warga Gaza juga menarik perhatian di berbagai negara Arab. Banyak warganet menilai kegembiraan itu bukan semata-mata tentang sepak bola.
"Dari puing-puing kehancuran dan di tengah penderitaan akibat genosida, Gaza merayakan kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2026," tulis Shaaban Ahmed Al-Ajili dari Oman di X.
"Gaza tidak pernah melupakan mereka yang berdiri bersama mereka," tulisnya sambil membagikan video perayaan tersebut.
Video-video yang beredar memperlihatkan anak-anak Palestina saling berpelukan merayakan kemenangan Spanyol, menghadirkan momen kebersamaan yang langka di tengah konflik yang berlangsung sejak Oktober 2023.
Spanyol merupakan salah satu negara yang secara terbuka mengkritik perang Israel di Gaza yang, menurut naskah sumber, telah menewaskan lebih dari 73.000 orang dan melukai lebih dari 173.000 lainnya sejak Oktober 2023.
Perayaan di berbagai kota Palestina
Kota-kota Palestina seperti Bethlehem, Hebron, dan Nablus di Tepi Barat yang diduduki juga menggelar perayaan. Ratusan warga berbaris di jalan sambil membawa bendera Spanyol dan Palestina.
Sikap politik Spanyol menjadi bagian penting dalam perayaan tersebut. Para aktivis dan seniman kembali mengingat dukungan Madrid terhadap Palestina, pengakuannya terhadap Negara Palestina, serta kritik berulang terhadap perang Israel di Gaza.
Kartunis Palestina Alaa Al-Laqta mengunggah ilustrasi trofi Piala Dunia yang dihiasi gambar empat pemain Spanyol, termasuk Lamine Yamal, sedang mengibarkan bendera Palestina.
Ilustrasi tersebut merujuk pada sikap pro-Palestina Spanyol dan aksi Yamal yang pernah mengangkat bendera Palestina.
Yamal sebelumnya mengibarkan bendera Palestina pada 11 Mei saat ikut dalam parade kemenangan Barcelona merayakan gelar Liga Spanyol di Kota Barcelona.
Kartunis Palestina Mohammad Saba'aneh juga membagikan ilustrasi yang memperlihatkan Yamal mengangkat bendera Palestina yang kemudian berubah menjadi tangan yang membawa bendera Spanyol sebagai simbol solidaritas timbal balik.
Pesan terima kasih untuk Spanyol
Jurnalis Palestina Alaa Rimawi menilai final Piala Dunia berubah menjadi peristiwa yang juga memiliki dimensi politik.
"Kekalahan yang diinginkan Israel: Mengapa Spanyol menjadi lawan di final Piala Dunia?" tulis Rimawi.
Ia mengatakan sejumlah media dan pejabat Israel berharap Spanyol kalah karena kritik Madrid terhadap perang Israel di Gaza.
Rimawi juga menyebut seorang rabi Israel mengaku "berdoa agar Spanyol kalah" karena negara tersebut masih memiliki makna historis tertentu dalam ingatan masyarakat Yahudi.
Akademisi Palestina Nidal Amro menulis di media sosial, "Ketika kebahagiaan yang begitu besar bertemu dengan kesedihan yang mendalam dalam satu waktu... Selamat Spanyol... Selamat Palestina."
Perayaan tersebut berlangsung di tengah berlanjutnya dukungan Spanyol terhadap Palestina. Pada 30 April, Perdana Menteri Pedro Sanchez menyerukan agar Uni Eropa segera menangguhkan perjanjian asosiasi dengan Israel.
Pada Januari, Spanyol juga berjanji meningkatkan bantuan pembangunan untuk Palestina menjadi 75 juta euro selama dua tahun ke depan serta mendorong dukungan internasional bagi Koalisi Darurat untuk Keberlanjutan Keuangan Pemerintah Palestina.
Pada Mei 2024, Spanyol secara resmi mengakui Negara Palestina, yang memicu kemarahan Tel Aviv. Krisis semakin meningkat pada 2025 setelah Madrid memberlakukan sejumlah langkah terhadap Israel, termasuk larangan ekspor senjata, pembatasan pengiriman militer melalui wilayah Spanyol, pembatasan transaksi dengan permukiman Israel, serta penarikan duta besarnya dari Israel.
"Dari Palestina untuk Spanyol... Kami mendukung mereka yang berdiri bersama kami, membela kami, dan mengibarkan bendera kami dengan bangga," tulis pengusaha Palestina Bashar Masri.